Wednesday, 1 June 2011

Catatan Pendakian Gunung Slamet (3428m dpl)


Meleset dari perencanaan yang semula akan diikuti oleh 6 orang, ternyata yang bergabung hanya 4 orang (Gue, Badru, Rohmat, dan Yatno). Teman kami yang 2 tidak bisa ikut karena ada kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan. (Ga tau tuh ada kesibukan apa Nugroho ma temennya..) Sesuai dengan rencana awal.., kami akan melakukan pendakian dari Kaliwadas – Kecamatan Sirampok Kabupaten Brebes (tempat yang sebelumnya belum pernah ku dengar..)
Rabu, 08 April 2009

Dengan berbekal seadanya dan persiapan yang memang udah d persiapkan jauh2 hari.. akhirnya q meluncur ke Temanggung. Ya.. rumahnya mas Rohmat. Karena plan awal memang disana kumpulnya. Setelah cari mencari bus akhirnya dapet juga bus nya.. SAFARI.. Bus jurusan solo-semarang melaju dengan kencangnya.. akhirnya sampai juga di terminal Bawen. Berhubung waktu udah menunjukkan pukul 19.00 WIB q kehabisan bus dah.. sejam.. dua jam.. kagak ada juga bis yang jurusan Temanggung lewat. Akhirnya setelah calling-callingan dengan mas Rohmat, q putuskan untuk naik bus yang ke jurusan Jogja. Nanti q jemput di Secang..!! kata mas Rohmat. Beres dah.. akhirnya q naik NUSANTARA.. bus yang menuju ke jogja. Jam 22.00 nyampe juga di Secang. Lagi2 nunggu.. mas Rohmat belum menampakkan batang hidung nya.. hmmmm… nunggu lagi…batinku dalam hati. kali ini q nunggu nya di warung mie ayam aja dah.. laper juga soalnya.. setelah datang mas Rohmat bilang tadi ngelesi dulu sebelum jemput. Haduh… capek dwehhhh.. capek nunggu nya maksudnya..”pantesan lama..” pikirku..

Dari tempat q makan mie ayam menu favorit ku.. liat mas Rohmat dateng nggak sendiri.. ternyata ada Badru.. Dia ma Mas Rohmat jemput q d Secang. Berhubung carierku gueeedheeee nya minta ampun jadi ga usah bolak balik deh karena udah bawa motor dua.. Setelah nyampe d rumah mas Rohmat langsung tancap buat istirahat ..

Kamis, 09 April 2009

Keesokan paginya si Yatno masih belom nonggol.. kemana tu anak.., waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 belum kelihatan juga. Pukul 07.25 baru kedengeran tuh suara motornya berhenti depan rumah mas Rohmat. Udah siang mas kataku.. usut punya usut ternyata ada masalah dengan motornya. Jadi agak molor deh.. Setelah melewati perdebatan yang panjang lebar akhirnya kami sepakat lewat rute Kaliwadas. Rute yang sebelumnya pernah ditutup selama 13 tahun karena ada pendaki yang kena musibah kejatuhan batu hingga meninggal (kata sang pemandu mas Tamsil). “Wah… berarti ntar kita babat alas dunk..” iam so excited bangetttttt…. Wis ayo gek ndang gage..

Setelah mempersiapkan perbekalan dan packing akhirnya kami berangkat menuju Purwokerto pukul 09.30, begitu dapat bis “Maju Makmur” ya ampun…!!! Hanya bias nelen ludah.. udah bis nya jelek, penumpangnya berjubel-jubel kaya ada pembagian BLT.., tapi daripada nunggu lebih lama lagi akhirnya ikut bis itu aja, Yatno sampe kaya kondektur gelantungan di pintu bis. Busyeeetttt dah…. Setelah menempuh 4 jam perjalanan dan bayar 25 ribu akhirnya sampe juga di Terminal Purwokerto, dan langsung ganti bis “Teguh”, kali ini ibis nya lumayan.. lumayan kecil maksudnya.. dan kamipun turun di pertigaan “Kali Gadung” dengan membayar 8 ribu. Dari Kali Gadung kami langsung ganti angkot L300 turun di “Pengasinan” kali ini bayarnya 10 ribu. Masalah mulai timbul di Pengasinan, Apa ya kira-kira??? Yup betul di Pengasinan jika sore hari sudah tidak ada angkot. Mati aku…!!! belum nyampe puncak udah pegel duluan ki.. Angkot yang menuju sampai Dawuhan hanya ada sampai pukul 11.00. Dengan pertimbangan financial yang kami punya akhirnya kami putuskan untuk jalan kaki dari pengasinan sampai Kaliwadas. E..e… nasib mujur menghampiri kami.. Baru berjalan 10 menit, eh…ada mobil lewat, kitapun ikut numpang sampe desa Batursari. Lumayan… Gretongan pula.. Dari Batursari kami lanjutkan perjalanan dengan jalan kaki dan sampai di Kaliwadas pukul 20.00 wib, tepatnya di rumah ”Bu Haji” sang juru kunci.

Nyampe di Kaliwadas kami dibuat bingung dan terheran2.. bayangpun.. masa ada tempat yang ada listriknya dan ada yang nggak dapet listrik.. padahal masih satu kampung. Masih satu RT malah.. hmmm… tapi waktu kami datang ke Kaliwadas suasana cukup ramai oleh warga karena saat itu bertepatan dengan pilkada desa. Dan kami pun disambut oleh Bu Hajji dengan hangat.

Jumat, 10 April 2009

Pukul 05.00 pagi kami semua sudah terbangun, setelah mandi ditengah dinginnya udara pagi, Bu Hajji sudah mempersiapkan sarapan nasi goreng dengan lauk seadanya untuk kami ber-empat. Baik bener ya Bu Hajji..

Rencananya kami akan mulai start pendakian pukul 08.00 dengan bantuan mas Tamil (penduduk setempat), orang yang berpapasan dengan kami saat perjalanan ke Kaliwadas tadi malam, dan dia bersedia untuk jadi pemandu jalan kami alias porter. Setelah semua berkumpul kamipun segera berangkat dengan terlebih dahulu pamitan dengan Bu Haji.

Kaliwadas – Tuk Suci

Start pendakian dimulai dengan melalui kebun penduduk yang kebanyakan ditanami kentang dan kol sampai akhirnya tiba diperbatasan hutan dan kebun. Ambil kanan ya.., karena disitu ada pertigaan. Sekitar kurang lebih 30 menit kita akan sampai di sebuah tempat yang dinamakan Tuk Suci yaitu mata air yang dibendung untuk kebutuhan pengairan desa dibawahnya. Komando sang porter. Disini kami mengisi perbekalan air karena setelah ini tidak ada lagi mata air. Eh sory masih ada dink...!! kata Tamil di Sumur Pengantin masih ada mata air tapi kita harus jalan kaki dulu dari pertigaan Taman Wlingi sekitar 30 menit. Dan tau ga.. katanya tu Sumur juga masih banyak mitos2 yang aneh2.. hmmmm syereeeemmmm….


Tuk Suci – Pondok Growong

Perjalanan dilanjutkan dengan melewati hutan pringgondani yaitu hutan bambu berukuran kecil, 30 menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai di pos 1 Pondok Growong yaitu sebuah pohon besar yang tengah pohonnya berlubang cukup besar. Katanya sih situ juga jadi salah satu “Istana”.. Selepas mengambil gambar secukupnya kamipun melanjutkan perjalanan

Pondok Growong – Taman Wlingi

Jalur disini relatif datar dan lebar, tak lama berjalan kami melewati sebuah jembatan, Mas Tamsil menyebutnya Taman Wlingi. Di sini ati-ati ya, sebab kalau lurus kita ketemunya bukan puncak Slamet tetapi Sumur Penganten dimana disitu sering ada peziarah yang minta berka, dan bisa2 malah nyasar entah kemana..

Taman Wlingi – Pos II

Kita ambil kiri aja untuk bisa sampai ke Puncak Slamet mas Tamil mengomandoi.., jalurnya ya ampun..!, hampir tidak terlihat, bener2 ga ada jalan sama sekali.. udah ketutup sama tanaman yang seumur2 belum pernah q lihat. Durinya banyak bangettttt… pohon2 juga udah banyak yang bertumbangan.. harus bisa.. q harus bisa.. q menyemangati diriku sendiri. Karena disana yang terlihat hanyalah semak belukar dan pohon penyengat di kiri kanan serta banyak pohon yang tumbang. Sangat disarankan kalau melewati jalur ini jangan coba-coba pakai celana pendek dan baju pendek, dijamin merah semua kulitnya karena gatal-gatal karena ulah pohon penyengat dan tumbuhan berduri. Sekitar satu setengah jam perjalanan kami sampai di Pos II sebuah tanah datar yang tidak begitu luas. Tetapi cocoklah untuk rehat sejenak sebelum menghadapi pohon penyengat lagi dalam perjalanan menuju ke pos III. Bertempur lagi dah ma semak penyengat..


Pos II – Pos III

Jalur mulai menanjak, pemandangan disekitar kebanyakan pohon-pohon besar, di jalur ini juga kita bisa menemukan tumbuhan yang namanya ”Begonia”. Tanaman ini rasanya asem dan bisa digunakan sebagai pengganti air bila kita kehabisan air. Klo kehabisan air kita bisa makan batang Begonia ini. Kali ini jalur sudah mulai kelihatan tetapi tetap harus WASPADA karena banyak percabangan salah ambil jalur bisa-bisa kita malah sampainya di Baturaden. Kurang lebih dua jam akhirnya sampailah di pos III.

Pos III – Pos IV

Tanpa istirahat terlalu lama kamipun langsung melanjutkan perjalanan dengan melewati jalur yang terus menanjak dan di pertengahan antara pos 3-4 tim memutuskan untuk makan siang dahulu karena jam sudah menunjukkan pukul 13.30, menunya adalah nasi putih dan indomie goreng, nikmat banget rasanya... Kita sampai di pos IV atau Igir Manis setengah jam setelah makan siang.

Pos IV – Pos V

Perjalanan dilanjutkan dengan menaiki kawasan Gunung Malang jadi ya agak terjal. Tapi kami bisa melewatinya dan pukul 15.30 kita sampai di pos V, disini kita istirahat dulu sejenak karena setelah ini kita akan melewati punggungan Gunung Malang yang agak terjal.

Pos V – Plawangan

Setelah beberapa menit melewati jalur terjal akhirnya jalur mulai terbuka yang ditandai dengan ilalang ilalang, dan disini jalurnya sudah agak landai. Di Igir Tjowek ini juga kami mendapati pertigaan jalur dari arah Baturaden dan kami ambil kiri. Masukan dari sang porter. Disini puncak slamet mulai terlihat, tetapi untuk sampai di Plawangan kita masih harus melewati dua bukit Gunung Malang. Bener2 perjalanan yang melelahkan.. muter..muter.. ga ada habisnya.. Dan sekitar pukul 17.00 akhirnya kami sampai juga di pos Plawangan. Plawangan merupakan sebuah tanah yang cukup datar di daerah terbuka, sekaligus merupakan batas vegetasi. Disini kami bisa menikmati indahnya sunset Gunung Slamet. Setelah melepas lelah sejenak kami mulai mendirikan tenda. Dan menanak nasi untuk menu makan malam, kali ini lauknya telur. Hmmm… nyummyyyy…

Sabtu, 11 April 2009


Plawangan – Puncak

Pukul 03.30 kami semua terbangun, mempersiapkan perbekalan untuk ke summit. Untuk memperingan beban, tenda dan carier kami tinggal. Pokoke semua yang ga perlu kami tinggal. Dan kmi pun tidak merasa takut kehilangan barang2 kami karena yang ada d situ cuma kami berlima saja. Ga ada orang selain kami. (Jadi silahkan kalian bayangkan sendiri situasinya.. he5x..). Kami memulai perjalanan ke puncak pukul 03.45, dan ternyata Allah masih melindungi kami karena bulan Purnama penuh ikut menerangi perjalanan kami. Dan lintasan semakin parah karena kami harus melewati batuan cadas dan labil dimana kiri kanan sudah tidak ada tumbuhan sama sekali. Disini kami perlu ekstra waspada dan hati-hati, semakin keatas lintasan semakin terjal hingga mencapai sudut 600. Bau belerang mulai menyengat ketika kami sampai dipuncak bayangan, Butuh waktu untuk menyisiri gigir kawah dan melewati Tugu Surono (Tumpukan batu), dan akhirnya kami sampai di puncak tertinggi ke-2 di pulau Jawa pukul 05.40. Alhamdullillah… Sungguh perasaan yang tak bisa diuraikan dengan kata2 setelah sampai d puncak..


Puas rasanya akhirnya kami dan khususnya q sendiri bisa mencapai puncak Slamet lewat punggung Barat dengan cuaca sangat bersahabat. Dari atas puncak Slamet q melihat ke sebelah timur dan menemukan sunrise yang anggun, Gunung Sindoro, Sumbing, dan Merapi yang seakan menjadi tiang penyangga langit Jawa Tengah. Menoleh ke Barat melihat Gn.Ceremei yang berdiri kokoh sendirian. Sungguh pengalaman yang luar biasaaaa…..

Setelah puas ber-narsis-narsis ria kami pun turun dan kembali ke Kaliwadas.


Alternatif transportasi :
Jika sampai di terminal Bumiayu kurang dari jam 11.00, langsung aja naik angkot jurusan Dawuhan/Kaliwadas, taripnya 15 ribu.
Jika bawa rombongan banyak mending carter mobil aja yang banyak ngetem di terminal Bumiayu sampai Kaliwadas, taripnya nego sendiri yang jelas lebih murah.
Jika angkot hanya bisa sampe Pengasinan, dan ada duit lebih ngojek aja dari Pengasinan ke Kaliwadas taripnya antara 20 ribu – 30 ribu per orang.

Nb :
Dari cerita-cerita yang saya dengar berbeda dengan jalur bambangan yang merupakan jalur gaib, jalur kaliwadas ini merupakan surga bagi flora dan fauna dimana jika kita beruntung kita bisa bertemu wild animal seperti macan jawa, elang jawa (waktu itu q juga sempet liat..), kera-kera liar, lutung, ayam hutan, juga flora seperti kantung semar, pohon-pohon berumur ratusan tahun, dan tentunya edelwis.

Anggota tim ekspedisi kali ini ada 4 orang :
Q sendiri (Solo), Rochmat (Temanggung), Yatno (Klaten), Badru (Pekalongan).
Reaksi:

1 comment:

  1. Ekspedisi yang keren, merah membara dari pos ke pos

    ReplyDelete

Thanks for your positive comment..