Tuesday, 21 June 2011

Kuliner Solo Raya


Makanan adalah bagian penting dari kehidupan masyarakat Solo, jadi wisata kuliner Anda akan terpuaskan di kota ini. Di kota ini juga tidak sulit untuk Anda mencari rumah makan yang menyajikan menu masakan khas Solo maupun menu makanan internasional. Solo terkenal dengan banyaknya jajanan kuliner tradisional yang lezat. Beberapa makanan khas Surakarta di antaranya: nasi liwet, nasi timlo, nasi gudeg yang sedikit berbeda dengan gudeg Yogyakarta, cabuk rambak, serabi Notosuman, intip, bakpia balong, dan roti mandarin. Ada juga Ayam bakar yang dipanggang disajikan dengan lalapan atau sayuran mentah. Pecel dengan sayuran yang dimasak di atas nasi dengan saus kacang pedas.

Untuk minuman khas Solo ada wedang asle yaitu minuman hangat dengan nasi ketan serta kelapa muda utuh sebagai minuman menyegarkan.

Berikut ini beberapa tempat kuliner yang dapat Anda kunjungi di Solo.

* Tengkleng Pasar Klewer, tepat di gapura Pasar klewer. Ini menu wajib bagi fans kuliner terutama bagi penikmat kambing, sebaiknya jangan datang terlalu siang karena pasti sudah habis.

* Nasi liwet Bu Wongso Lemu, terletak di Keprabon Kulon Solo dan sudah berdiri sejak 1950.

* Cabuk Rambak, terletak di Pasar Besar Pintu Timur, Dasaran, berjualan pukul 7.00-12.00.

* RM Timlo Sastro, terletak di Jl. Pasar Gede Timur 1-2, Balong, Solo Telp. 0271654820; Jl. Pasar Gede Timur 1-2 Balong; Jl. Dr Supomo Solo

* Gudeg Cakar Bu Kasno atau Gudeg Margoyudan, terletak di jalan Wolter Monginsidi depan GKJ Margoyudan.

* Serabi Notosuman Jl.Prof.M.Yamin No.52, Notosuman, berjualan pukul 06.00-18.00

* Warung Bebek Goreng Pak Slamet, terletak di Jalan Sedahromo Lor RT 01 RW 07 Kartosuro.

* Dawet Selasih Bu Watik, terletak si Pasar Gede

* Roti Mandarin, Toko Orion, di Jl.Urp Sumohardjo No.92, Mesen, berjualan pukul 09.00-21.00

SEJARAH KARATON SURAKARTA HADININGRAT

Karaton Surakarta adalah sebuah warisan budaya Jawa. Wujudnya berupa fisik bangunan Karaton, benda artefak, seni budaya, dan adat tata cara Karaton.
Keberadaannya yang sekarang ini adalah hasil dari proses perjalanan yang panjang, dan merupakan terminal akhir dari perjalanan budaya Karaton Surakarta.

Usaha memahami keadaannya yang sekarang tidak bisa lepas dari usaha mempelajari asal usul dan keberadaanya di masa lampau. Sebab sepenggal cerita dan deskripsi sejarah suatu peristiwa kurang memberi makna yang berarti, jikalau tidak dikaitkan dengan proses dan peristiwa yang lain. Oleh karena itu peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam satu alur yang sama akan memberikan pemahaman yang menyeluruh dan utuh dari situasi yang sama saat ini.

Dalam kajian sejarah Karaton Surakarta akan ditelusuri dan dideskripsikan latar belakang dan proses menemukan lokasi Karaton, pemindahannya, pembangunannya serta perkembangannya baik dari segi fisik bangunan maupun segi nonfisik. Deskripsi historis berdasarkan sumber informan, dokumen-dokumen karya sastra dan sebagainya diharapkan memberikan pengetahuan yang lebih mendalam tentang Karaton Surakarta. Dari pengetahuan ini orang/masyarakat akan tumbuh kesadaran akan warisan budaya tersebut dan memiliki persepsi tertentu terhadap obyek tersebut.
Persepsi awal yang dapat dibentuk dari hasil kajian sejarah Karaton Surakarta ini pada gilirannya bisa menimbulkan daya tarik, memotivasi orang/warga masyarakat baik Nusantara maupun mancanegara untuk mengetahui lebih lanjut dan mendalam tentang segi-segi dari warisan budaya Karaton Surakarta tersebut.

A. Pengertian Karaton

Sebelumnya perlu dijelaskan mengenai pengertian Karaton. Menurut KRHT Wirodiningrat (Kantor Sasono Wilopo), ada tujuh pengertian (saptawedha) yang tercakup dalam istilah Karaton. Pertama, Karaton (Karaton) berarti kerajaan. Kedua, Karaton berarti kekuasaan raja yang mengandung dua aspek: kenegaraan (Staatsrechtelijk) dan magischreligieus. Ketiga, Karaton berarti penjelmaan “Wahyu nurbuwat” dan oleh karena itu menjadi pepunden dalam Kajawen. Keempat, Karaton berarti istana, kedaton “Dhatulaya” (rumah). Kelima, bentuk bangunan Karaton yang unik dan khas mengandung makna simbolik yang tinggi, yang menggambarkan perjalanan jiwa ke arah kesempurnaan. Keenam, Karaton sebagai Cultuur historische instelling (lembaga sejarah kebudayaan) menjadi sumber dan pemancar kebudayaan. Ketujuh, Karaton sebagai Badan (juridische instellingen), artinya Karaton mempunyai barang-barang hak milik atau wilayah kekuasaan (bezittingen) sebagai sebuah dinasti.

B. Proses Penemuan Lokasi Karaton

Baik dalam Babad Tanah Jawi (1941), Babad Kartasura Pacinan (1940), maupun dalam Babad Giyanti (1916, I), kisah perpindahan Karaton dari Kartasura ke Surakarta hampir sama deskripsinya. Secara ringkas kisahnya sebagai berikut.

Ketika Sunan Paku Buwana II (1726 – 1749) kembali dari Ponorogo (1742), baginda menyaksikan kehancuran bangunan istana. Hampir seluruh bangunan rusak berat, bahkan banyak yang rata dengan tanah akibat ulah para pemberontak Cina. Bagi Sunan, keadaan tersebut mendorong niatnya untuk membangun sebuah istana yang baru, sebab istana Kartasura sudah tidak layak lagi sebagai tempat raja dan pusat kerajaan. Niat ini kemudian disampaikan kepada para punggawa kerajaan. Patih R. Ad. Pringgalaya dan beberapa bangsawan diajak berembug tentang rencana pembangunan istana baru tersebut. Raja berkehendak membangun istana baru di tempat yang baru. Raja menghendaki, istana yang baru itu berada di sebelah timur istana lama, dekat dengan Bengawan Sala. Hal ini dilakukan di samping untuk menjahui pengaruh para pemberontak yang mungkin masih bersembunyi di kartasura, juga untuk menghapus kenangan buruk kehancuran istana Kartasura.

Setelah diadakan pembicaraan seperlunya tentang rencana Sunan tersebut, akhirnya Sunan mengutus utusan yang terdiri dari ahli negara, pujangga dan ahli kebatinan untuk mencari tempat yang cocok bagi pembangunan istana baru. Para utusan tersebut diberi wewenang dan kekeuasaan untuk bersama-sama mencari dan memilih tempat yang cocok untuk istana batu, baik sacara lahiriah maupun batiniah. Utusan itu terdiri dari Mayor Hohendorp, Adipati Pringgalaya, dan Adipati Sindurejo (masing-masing sebagai Patih Jawi’Patih Luar’ dan Patih Lebet ‘Patih Dalam’), serta beberapa orang bupati. Utusan itu diikuti oleh Abdi Dalem ahli nujum, Kyai T. Hanggawangsa, RT Mangkuyuda, dan RT Puspanegara. Setelah berjalan lama, mereka mendapatkan tiga tempat yang dianggap cocok untuk dibangun istana. Ketiga tempat itu adalah:

Desa Kadipala; daerahnya datar, kering, akan tetapi para ahli nujum tidak menyetujui, sebab walaupun kelak kerajaan Jawa tumbuh menjadi kerajaan yang besar, berwibawa dan adil makmur, namun akan cepat rusak dan akhirnya runtuh. Sebagai tanda, maka ditempat itu dibangun sebuah panggung (Kopel). Sekarang panggung itu dikelilingi oleh bangunan dan gudang kayu jati milik seorang Cina, Jap Kam Mlok (Tikno Pranoto, tth: 27). Letaknya di depan bekas Rumah Sakit Kadipala, di sebelah utara jalan Dr. Rajiman.

Desa Sala; atas pilihan RT. Hanggawangsa dan disetujui oleh semua utusan kecuali Mayor Hohendorp. Alasannya, tanahnya sangat rusak, terlalu dekat dengan Bengawan Sla, dan daerahnya penuh dengan rawa-rawa yang dalam.

Desa Sana Sewu; terhadap tempat ini RT. Hanggawangsa tidak menyetujuinya, karena menurut ‘jangka’, akan mengakibatkan perang saudara dan penduduk Jawa akan kembali memeluk agama Hindu dan Budha (tiyang Jawi badhe wangsul Budha malih) (Panitia Hari Jadi, 1973:81;Pawarti Surakarta, 1939:9-10).

Setelah diadakan permusyawaratan, para utusan akhirnya memilih desa Sala sebagai calon tunggal untuk tempat pembangunan istana baru, dan keputusan ini kemudian disampaikan kepada Sunan di Kartasura. Setelah Sunan menerima laporan dari para utusan tersebut, kemudian memerintahkan beberapa orang Abdi Dalem untuk meninjau dan memastikan tempat itu. Utusan itu ialah Panembahan Wijil, Abdi Dalem Suranata, Kyai Ageng Khalifah Buyut, Mas Pangulu Fakih Ibrahim, dan Pujangga istana RT. Tirtawiguna (Tus Pajang, 1940:19-21). Sesampainya di desa Sala, utusan tersebut menemukan suatu tempat yang tanahnya berbau harum, maka disebut desa Talangwangi (tala = tanah; wangi = harum), terletak di sebelah barat laut desa Sala (sekarang menjadi kampung Gremet). Setelah tempat tersebut diukur untuk calon lokasi istana, ternyata kurang luas, maka selanjutnya para utusan melakukan “samadhi” (bertapa) untuk memperoleh ilham (“wisik”) tentang cocok atau tidaknya tempat tersebut dijadikan pusat istana. Mereka kemudian bertapa di Kedhung Kol (termasuk kampung Yasadipuran sekarang).

Setelah beberapa hari bertapa, mereka memperoleh ilham bahwa desa Sala sudah ditakdirkan oleh Tuhan menjadi pusat kerajaan baru yang besar dan bertahan lama (Praja agung kang langgeng). Ilham tersebut selanjutnya memberitahukan agar para utusan menemukan Kyai Gede Sala (sesepuh desa Sala). Orang itulah yang mengetahui ‘sejarah’ dan cikal bakal desa Sala . Perlu diketahui, bahwa nama Kyai Gede Sala berbeda dengan Bekel Ki Gede Sala, seorang bekel yang menepalai desa Sala pada jman Pajang. Sedang Kyai Gede Sala adalah orang yang mengepalai desa Sala pada jaman kerajaan Mataram Kartasura (Pawarti Surakarta, 1939:6-7).

Selanjutnya Kyai Gede Sala menceritakan tentang desa Sala sebagai berikut. Ketika jaman Pajang, salah seorang putera Tumenggung Mayang, Abdi Dalem kerajaan Pajang, bernama Raden Pabelan, dibunuh di dalam istana, sebaba ketahuan bermain asmara dengan puteri Sekar Kedaton atau Ratu Hemas, puteri Sultan Hadiwijaya, raja Pajang (Atmodarminto, 1955:83;Almanak Cahya Mataram, 1921:53;Dirjosubrata, 1928: 75-76). Selanjutnya mayat raden Pabelan dihanyutkan (“dilarung”) di sungai Lawiyan (sungai Braja), hanyut dan akhirnya terdampar di pinggir sungai dekat desa Sala. Bekel Kyai Sala yang saat itu sebagai penguasa desa Sala, pagi hari ketika ia pergi kesungai melihat mayat. Kemudian mayat itu didorong ke tengah sungai agar hanyut. Memang benar, mayat itu hanyut dibawa arus air sungai Braja. Pagi berikutnya, kyai Gede Sala sangat heran karena kembali menemukan mayat tersebut sudah di tempatnya semula. Sekali lagi mayat itu dihanyutkan ke sungai. Namun anehnya, pagi berikutnya peristiwa sebelumnya berulang lagi. Mayat itu kembali ke tempat semula, sehingga Kyai Gede Sala menjadi sangat heran. Akhirnya ia “maneges”, minta petunjuk Tuhan Yang Maha Kuasa atas peristiwa itu. Setelah tiga hari tiga malam bertapa, Kyai Gede Sala mendapat ilham atau petunjuk. Ketika sedang bertapa, seakan-akan ia bermimpi bertemu dengan seorang pemuda gagah. Pemuda itu mengatakan, bahwa dialah yang menjadi mayat itu dan mohon dengan hormat kepada Kyai Gede Sala agar dia dikuburkan di situ. Namun sayang, sebelum sempat menanyakan tempat asal dan namanya,pemuda itu telah raib/menghilang. Akhirnya Kyai Gede Sala menuruti permintaan pemuda tersebut, dan mayatnya dimakamkan di dekat desa Sala. Karena namanya tidak diketahui, maka mayat itu desebut Kyai Bathang (bathang = mayat). Sedangkan tempat makamnya disebut Bathangan (makam itu sekarang berada di kawasan Beteng Plaza, Kelurahan Kedung Lumbu). Dengan adanya Kyai Bathang itu, desa Sala semakin raharja (Sala = raharja_, kehidupan rakyatnya serba kecukupan dan tenang tenteram (Roorda, 1901:861).

Demikian cerita singkat Kyai Gede Sala. Kuburan itu terletak di tepi rawa yang dalam dan lebar. Keadaan ini kemudian oleh para utusan dilapokan kepada Sunan di Kartasura.

Sesudah Sunan Paku Buwana II menerima laporan, maka segera memerintahkan kepada Kyai Tohjaya dan Kyai Yasadipura (I), serta RT. Padmagara, untuk mengupayakan agar desa Sala dapat dibangun istana baru. Ketigautusan tersebut kemudian pergi ke desa Sala. Sesampainya di desa Sala, mereka berjalan mengelilingi rawa-rawa yang ada disekeliling desa Sala. Akhirnya mereka dapat menemukan sumber Tirta Amerta Kamandanu (air kehidupan, sumber mata air). Hal itu dilaporkan kepada Sunan, dan kemudian Sunan memutuskan bahwa desa Sala-lah yang akan dijadikan pusat istana baru. Sunan segera memerintahkan agar pembangunan istana segera dimulai. Atas perintah Sunan, seluruh Abdi Dalem dan Sentana dalem membagi tugas: Abdi Dalem mancanegara Wetan dan Kilen dimintai balok-balok kayu, jumlahnya tergantung pada luas wilayahnya. Balok-balok kayu tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam rawa di desa Sala sampai penuh. Meskipun demikian belum dapat menyumbat mata air rawa tersebut, bahkan airnya semakin deras.

Sanadyan kelebetana sela utawi balok ingkang ageng-ageng ngantos pinten-pinten ewu, meksa mboten saget pampet, malah toya saya ageng ambalaber pindha samodra.(Tus Pajang, 1940:24-25).

(Walaupun diberi batu ataupun balok-balik kayu yang besar-besar sampai beribu-ribu banyaknya, terpaksa tidak dapat tertutup, bahkan keluarnya air semakin besar dan menyeruap bagaikan samodra).

Bahkan lebih mengherankan lagi, dari sumber air tersebut keluar berbagai jenis ikan yang biasa hidup di air laut (teri pethek, dsb). Menyaksikan kejadian itu, Panembahan Wijil dan Kyai Yasadipura bertapa selama tujuh hari tujuh malam tanpa makan dan tidur. Akhirnya pada malam hari Anggara Kasih (Selasa Kliwon) Kyai Yasadipura mendapatkan ilham sebagai berikut:

He kang padha mangun pujabrata, wruhanira, telenging rawa iki ora bisa pampet amarga dadi tembusaning samodra kidul. Ewadene yen sira ngudi pampete, kang dadi saranane, tambaken Gong Kyai Sekar Dlima godhong lumbu, lawan sirah tledhek, cendhol mata uwong, ing kono bisa pampet ponang teleng. Ananging ing tembe kedhung nora mili nora pampet, langgeng toyanya tan kena pinampet ing salawas-lawase (Pawarti Surakarta, 1939:7).

(Hai, kalian yang bertapa, ketahuilah, bahwa pusat rawa ini tidak dapat ditutup, sebab menjadi tembusannya Lautan Selatan. Namun demikian bila kalian ingin menyumbatnya gunakan cara: gunakan Gong Kyai Sekar Delima, daun lumbu (talas), dan kepala ronggeng, cendol mata orang, disitulah pasti berhenti keluarnya mata air. Akan tetapi besok kenghung itu tidak akan mengalir, tetapi juga tidak berhenti mengeluarkan air, kekal tidak dapat disumbat selama-lamanya).

Penerimaan ilham tersebut terjadi pada hari Anggara Kasih (Selasa Kliwon) tanggal 28 Sapar, Jimawal 1669 (1743 Masehi) (Yasadipura II, 1916: 17-18). Segala kejadian tersebut kemudian dilaporkan kepada Sunan di Kartasura. Sunan sangat kagum mendengar laporan tersebut dan setelah berpikir keras akhirnya Sunan bersabda:

Tledhek iku tegese ringgit saleksa. Dene Gong Sekar Dlima tegese gangsa, lambe iku tegese uni. Dadi watake bebasan kerasan. Gong Sekar Delima, dadi sekaring lathi, ingkang anggambaraken mula bukane nguni iku Kyai Gede Sala. Saka panimbang iku udanegarane kabener anampi sesirah tledhek arta kehe saleksa ringgit (cendhol mata uwonng), mangka liruning kang dadi wulu wetuning desa tekan ing sarawa-rawa pisan (Pawarti Surakarta, 1939:8).

“Tledhek” berarti sepuluh ribu ringgit. Gong Sekar Delima berarti “gangsa”, bibir atau ujar (perkataan). Jadi bersifat perumpamaan. Gong Sekar Delima menjadi buah bibir yang menggambarkan asal mula/cikal bakal (desa) yaitu Kyai Gede Sala. Atas pertimbangan itu sepantasnya menerima ganti uang sebanyak sepuluh ribu ringgit. Sebagai ganti rugi penghasilan desa beserta rawa-rawanya.

Demikian akhirnya Kyai Gede Sala memperoleh ganti rugi sebesar sepuluh ribu ringgit (saleksa ringgit) dari Sunan. Selanjutnya Kyai Gede Sala bertapa di makam Kyai Bathang. Di dalam bertapa itu Kyai Gede Sala memperoleh “Sekar Delima Seta” (putih) dan daun lumbu (sejenis daun talas). Kedua barang tersebut dimasukkan ke dalam sumber mata air (Tirta Amerta Kamandanu). Sesudah itu dilakukan kerja bhakti (gugur gunung) menutup rawa. Akhirnya pekerjaan itu selesai dengan cepat. Penghuninya dipindahkan dan dimukimkan kembali di tempat lain (“wong cilik ing desa Sala kinen ngalih marang ing desa Iyan sami”). Kemudian pembangunan dimulai dengan menguruk tanah yang tidak rata dan dibuat gambar awal dengan mengukur panjang dan lebarnya (“ingkur amba dawane”). Puluhan ribu (leksan) buruh bekerja di proyek pembangunan itu. Dinding-dinding pertama dibangun dari bambu karena waktunya mendesak. Adapun desain umumnya mencontoh model Karaton Kartasura (“anelad Kartasura”) (Lombard, III: 109).

Mengapa pilihan jatuh di desa Sala, ada beberapa alasan yang dapat diajukan, baik dilihat secara wadhag atau fisik-geografis maupun alasan magis-religius. Desa Sala letaknya dekat dengan Bengawan Sala, yang sejak lama mempunyai arti penting dalam hubungan sosial, ekonomi, politik, dan militer antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebuah sumber menyebutkan, Bengawan Sala atau atau Bengawan Semanggi mempunyai 44 bandar (Fery Charter abad ke-14), salah satunya bernama Wulayu atau Wuluyu atau sama dengan desa Semanggi (bandar ke-44). Dalam Serat Wicara Keras disebutkan, Bengawan Sala sebagai Bengawannya orang Semanggi (bandingkan dengan Babad Tanah Jawi). Alasan lainnya, di desa Sala cukup tenaga kerja untuk membuat Karaton karena dikelilingi oleh desa Semanggi, Baturana, dan Babudan (dua desa yang terakhir merupakan tempat Abdi Dalem pembuat babud permadani pada jaman Kartasura). Desa Sala sendiri zaman Padjang dibawah bekel Kyai Sala. Alasan politis juga dapat dimasukkan, terutama dalam menjaga kepentingan VOC. Untuk mengawasi Mataram maka VOC membangun benteng di pusat kota Mataram yang mudah dijangkau dari Semarang sebagai pintu gerbang ke pedalaman.

Sementara itu terdapat sejumlah alasan magis-religius seperti berikut ini. Pertama, desa Sala terletak di dekat tempuran, yaitu bertemunya Sungai Pepe dan Bengawan Sala. Tempuran merupakan tempat magis dan sakral. Dismping itu, kata Sala atau Qala dihubungkan dengan bangunan suci. Kata itu berarti ruangan atau bangsal besar dan telah disebut-sebut dalam OJO no. XLIII (920) dengan istilah Kahyunan. Di Qala tedapat sekolah Prahunan (sekarang kampung praon) di dekat muara Sungai Pepe, yang artinya bangunan suci di Hemad (I Hemad atau Ing Hemad, Ing Gemad = Gremet). “Ning peken ri hemad”, artinya di pasar ngGremet, tempat dilakukan upacara penyumpahan mendirikan tempat swatantra perdikan di Sala.

Pembangunan Karaton segera dimulai setelah rawa-rawa berhasil dikeringkan dan tempatnya dibersihkan. Untuk mengurug Karaton, tanahnya diambil dari desa Talawangi. (dalam sebuah sumber lain disebutkan, “hawit iku pada kalebu hing jangka, sak mangsa-mangsa ndandani Kadaton bakal njupuk hurug lemah Kadipala (Tetedakan sangking Buk Ha: Ga, Sana Pustaka). Jadi tanah Talawangi dan tanah Sala kedua-duanya dipakai untuk pembangunan Karaton. Karaton telah berdiri meskipun belum dipagari batu dan baru dari bambu (jaro bethek). Sirnaning Resi Rasa Tunggal (1670) menandai saat pengerjaan Karaton selesai, meskipun nampak tergesa-gesa.

Kata Surakarta sendiri lebih dicari akarnya pada kata atau kerajaan sebelumnya, Kartasura dan Kerta. Kartasura (Jaman Amangkurat II) dulu bernama Wanakerta = berani berperang. Sedangkan Kerta atau Karta = tenteram, pusat Mataram jaman kejayaannya. Jadi keturunan Mataram mengharapkan kejayaan dan ketentraman kembali Mataram seperti ketika beribukota di Karta. Ada pendapat lain yang mengatakan, kata Sala berasal dari desa ala, artinya desa yang jelek. Dan, Karta Sura artinya bukan Karta dan Sura, karena fakta membuktikan bahwa Kartasura tidak banyak membawa kegahagiaan. Sedangkan kata Surakarta sering kali juga dihubungkan dengan Batavia atau Jayakarta. Orang Jawa Barat menyebut bandar ini dengan nama Surakarta. Untuk menghormati Kompeni, maka Sunan menamakan Karatonnya yang baru dengan Surakarta (Hadiningrat).

Setelah tanah diratakan, Sunan memerintahkan agar dilakukan pengukuran calon istana (kutha). Petugasnya adalah : Mayor Hohendrop, Patih R. Ad. Pringgalaya, Kyai T. Puspanagara, Kyai T. Hanggawangsa, Kyai T. Mangkuyuda, dan Kyai T. Tirtawiguna. Petugas pengukur calon istana ialah Panembahan Wijil dan Kyai Khalifah Buyut. Pengukur “adu manis”-nya istana ialah Kyai Yasadipura dan Kyai Tohjaya. Untuk mempertinggi pusat istana, maka mengambil tanah dari Talawangi, Kadipala dan Sanasewu. Para tukang (abdi dalem Kalang) diperintahkan dan dikerahkan untuk membangun istana. Lurah Undhagi (tukang kayu) dipimpin oleh Kyai Prabasena dibantu oleh Kyai Karyasana, Kyai Rajegpura, Kyai Sri Kuning, ditambah tenaga dari mancanegara. Sebagai penanggungjawab adalah R. Ad. Pringgalaya dengan dibantu para Bupati Jawi dan Lebet. Permulaan pembangunan itu ditandai dengan sengkalan “Jalma Sapta Amayang Buwana = 1670 Jawa (1744 M)

C. Prosesi Pemindahan Karaton dari Kartasura ke Surakarta

Pada suatu ketika RT. Tirtawiguna di tanya oleh Sunan tentang persyaratan perpindahan pusat istana, maka RT. Tirtawiguna memberi penjelasan sebagai berikut (Adeging Karaton tth:13):

Ketika Raja Parasara memindahkan kerajaannya ke Hastinapura, persajian yang diadakan adalah pala kirna, pala kesimpar, pala gumantung, pala kependhem, pala andheng atau bunga-bungaan yang harum baunya ditaruh ditengah istana. Para pendeta berdoa sehari semalam. Barulah perpindahan dilakukan.

Prabu Aji Pamosa dari Kediri memindahkan pust Kerajaan dari Kediri ke Witaradya. Persajian sama dengan Prabu Yudayaka (Parasara) di Hastina, dengan ditambah “tumpeng rajegan” (tumpeng seribu buah) diberi daging binatang berkaki empat, ikan darat, ikan kali, daging jenis unggas, “jajan pasar”.

Prabu Dewata Cengkar di Medang Kamulang, pindah ke Medang Kamulan Timur. Persajian sama seperti Prabu Aji Pamosa dengan ditambah “gecok mentah” dipasang di setiap sudut istana dan setiap perempatan besar dan kecil.

Pabu Banjaran Sari di Kerajaan Pajajaran pindah ke Galuh. Persajian sama dengan yang dilakukan oleh Prabu Dewata Cengkar dengan ditambah Raja dan Ratu berpakaian “Wligasan” (pakaian penganten), menghias jalan-jalan, para abdi dalem “Sarimbit” dengan pakaian “Kepangeranan penganten” (pakaian penganten sesudah upacara kirab “Kanarendran”)

Segala kegiatan perpindahan tersebut seluruhnya selalu diakhiri dengan “bujana handrawina” (peta atau resepsi). Sunan menerima persajian seluruhnya dan ditambah dengan “bumbu-bumbu masak atau racikan atau rerajungan”. Selanjutnya diatas rencana perpindahan tersebut lebih dahulu barang-barang yang dipindahkan adalah:
1. beras dan padi
2. perlengkapan dapur dengan segala macam bumbu masak
3. sato iwen (ayam, itik, dan sejenisnya)
4. raja kaya (hewan ternak berkaki empat)
5. perlengkapan-perlengkapan lain

Sedang jenis “sajen” yang diadakan ialah: gecok kelapa, bekakak ikan, bumbu sekapur peyon atau robyongan: bunga sirih lengkap, rokok boreh. Jenis tumpeng: megana, urubing damar, tatrah, rabah, rerajungan, rukini, kelut, litut, gicing. Disamping masih ada sayuran, ikan, daging dan segala macam jenang : jenang abang, putih, selaka, mangkur, kiringan, ngongrong, dodol, a lot, bakmi, bandeng, lemu kaleh, kalong, jada, wajik, pudhak pondhoh, ketan manca warna atau pala kirna, pala gumantung, pala kesimpar, pala kependhem, dan pala andheng. Kemudian berbagai macam telur, ayam, itik, burung, ikan dan sebagainya. Berbagai macam benang, kain batik, selendang, kain kerik dan masih banyak lagi jenis sajian lainnya. ( Pawarti Surakarta, 1939 : 10-11) Kemudian tiga jenis emas, perak, binatang hidup.

Setelah semua persiapan dirasa cukup lengkap, maka pada hari yang telah ditetapkan, Sunan beserta segenap Keluarga kaum kerabat pindah tempat dari Kartasura ke desa Sala.

Mayor Hogendorp beserta pasukannya berapa di depan sejumlah lima kompi. Perpindahan itu dilakukan pada hari Rabu Pahing, 17 Sura, Sesengkalan “ Kambuling Puja Asyarsa ing Ratu “ ( 1670 Jawa = 1745 M atau 17 Februari 1745 ). Dalam Serat Kedhaton, disebutkan :


Sigra jengkar saking Kartawani
Ngalih kadhaton mring dhusun sala
Kebut sawadya balane
Busekan sapraja gung
Pinengetan hangkate huni
Hanuju hari Buda henjing wancinipun
Wimbaning lek ping Sapta Wlas
Sura He je kombuling Pudya Kapyarsi
Hing Nata kang sangkala

(Segera berangkat dari Kartasura
Pindah karaton di dusun sala
Semua bala prajurit
Sibuk seluruh praja
Diperingati berangkatnya dulu
Bertepatan hari Rabu pagi,
Tanggal 17)


Raja dan Ratu tampil di singgana ( sithinggil ) diiring semua penari perempuan ( Bedhaya Serimpi ) dan para pengikut. Mereka disambut serentak oleh tembakan meriam, bunyi gamelan dan tiupan terompet. Lalu mereka mulai berjalan dan sang pujangga mendiskripsikan dengan teliti urut-urutan panjang itu, yang secara simbolis berarti “ mengankut Karaton sampai ke desa Sala “ ( ngalih kadhaton mring dhusun Sala ). Susunan barisan berikut ( Pawarti Surakarta 1939 : 16 – 21 ; Yasadipura II, 1916, 1 : 20 -21 )

1. Waringin kurung sakembaran ( dua batang pohon beringin ) diberi kain cinde diapit oleh Abdi Dalem dari desa-desa.
2. Bangsal Pangwarit diiringi oleh Abdi Dalem Prajurit Kalang, Gowong, Undhagi, Selakerti.
3. Gajah kenaikan Sunan, diapit oleh Abdi Dalem Srati.
4. Kuda kenaikan Sunan diiringi oleh Abdi Dalem Gamel.
5. Para Abdi Dalem Bupati Nayaka Jawi Kiwo dan Tengen: Panumping, Panekar, Sewu Numbak Anyar, Siti Ageng Kiwo Tengen, Bumi, Bumija, diiringi oleh Abdi Dalem Kliwon, Panewu, Mantri, naik kuda dengan berpayung.
6. Abdi Dalem Bupati Anom Anon-Anon beserta Panewu, Mantrinya, terdiri dari: Abdi Dalem: kemasan, greji, pandhe, sayang, gemblak (gembleg), puntu, samak, tukang laras, tukang warangka, tukang ukir, jlagra, slembar, gupyuh, tukang cekathak, tukang pasppor, tukang landheyan (tempat tombak), undhagi, bubut, kendhi, niyaga, badhut, dhalang, tukang sungging, tukang natah wayang, tukang cat, tukang prada, tledhel, kebon dharat, mengiringi gamelan terdiri dari: Kyai Surak, Kyai Sekar Delima, Kyai Sekar Gadhung, diberi payung kuning.
7. Selanjutnya diikuti oleh tukang song-song (payung), tukang pasar, tukang tulup, tukang jemparing (panah), tukang jungkat (sisir), teluk, gebyar, tukang musik, (batik), Patih Raden Adipati Pringgalaya dan Patih Raden Adipati Sindureja disertai benda-benda upacara kepatihan.
8. Prajurit Kompeni lima kompi dengan berkuda.
9. Benda-benda upacara Kadipaten Anom diiringi oleh para Abdi Dalem Punakawan, emban, cethi, nyai. Kemudian Raden Adipati Anom naik kuda, berpayung berjajar dengan Mayor Hagendrop, diiringi oleh Abdi Dalem Kadipaten Anom dan ditutup oleh Pepatih dan Wedana Kadipaten: RT. Wirapraja.
10. Abdi Dalem Prajurit Sarageni dan Sarantaka, disambung dengan bedhug dengan diiringi Abdi Dalem Merbot, Penghulu, Khetib, Ulama, pradikan, berkuda dan berpayung. Disambung: Cekal Kyai Baladewa dibawa oleh Abdi Dalem Kebayan lengkap.
11. Para Sentana, Panji, Riya Pangeran, putra, berkuda, berpayung, ditutup oleh Abdi Dalem Suranata, juru besarta anak buahnya.
12. Para punakawan, Hurdenas, ponylompret Belanda, tombak milik Sunan, kiri kanan mengapit benda-benda upacara kerajaan: banyak dhalang sawung galing dibawa oleh Abdi Dalem Gandhek Mantri Anom, berpayung kuning. Disambung benda-benda pusaka kerajaan: bendhe (canang) Kyai Bicak. Pembawanya naik kuda berpayung kuning. Disambung Abdi Dalem Gajah Mati dengan membawa Carak Kyai Nakula Sadewa, cemeti milik raja, Kyai Pecut, Kemudian Raja diiringi oleh Abdi Dalem Keparak kIwa Tengen dengan membawa benda-benda upacara Kerajaan. Kemudian para prajurut Tamtama, kiri kanan masing-masing dua ratus orang prajurit. Disambung oleh Abdi Dalem Prajurit Mertalulut dan Singanagara, membawa pusaka oleh Abdi Dalem Keparak Kiwa Tengen berjumlah empat pulih orang, berkuda diiringi benda-benda upacara Kabupaten.
13. Abdi Dalem Keputren: Nyai Tumenggung atau Nyai Lurah Keparak Jawi dan Lebet naik tandu/kremun atau tandu kajang dan ada yang berkuda, beserta anak buah. Disambung para Wedana, Panewu, Mantri, Kliwon beserta anak buah. Kemudian istri Patih Pringgalaya dan Patih Danurejo. Disambung Abdi Dalem Bedaya Srimpi Manggung Ketanggung atau pembawa benda-benda upacara, para Ratu serta para emban dan para Nyai. Kemudian Permaisuri Sunan diiringi oleh Abdi Dalem Gedhong Kiwa Tengen empat orang, Abdi Dalem Kliwon, Panewu, Mantri Jajar. Disamping putera-puteri Sunan dan para Selir (Priyatun Dalem), para istri Bupati Mancanagara, semua Keputren ini sebagian besar naik tandu, kremunjoli atau jempana.
14. Benda-benda pusaka Kerajaan, dimasukkan ke dalam gendhaga (bokor), serta buku-buku Kerajaan dibawa oleh Abdi Dalem Keparak, diiringi oleh Abdi Dalem Kasepuhan, Bupati, Kliwon, Panewu, Mantri, para prajurit dan para panahan.
15. Para Abdi Dalem Perempuan, bekerja dapur beserta perlengkapan dapur, Abdi Dalem Krapyak, dengan membawa beras, ayam, dan sato iwen lain, upeti para Adipati Mancanagara. Kemudian Abdi Dalem Jajar beserta perlengkapan rumah tangga, Abdi Dalem Pamajegan membawa kayu bakar, arang, sapit, sajen, tampah (niru), tebok, ancak, seruk (bakul), tumbu, sapu, godhong (daun), ethong, lesung, lempong, alu ujon, kukusan, irus, solet, dan sejenis peralatan dapur lainnya. Kemudian pusaka Dalem Dandang Kyai Dhudha, pusaka Panjang Kyai Blawong, Kendhil Kyai Marica, dijaga oleh Nyai Gandarasa yang naik tandu, diiringi oleh Bupati Gading Mataram besarta anak buahnya. Kemudian disambung oleh Galadhag Pacitan membawa batu, tempat minum harian milik Raja, Sela Gilang, teras bagi Siti Hinggil Sela Gilang di Bangsal Pangrawit, Bangsal Manguntur Tangkil dan batu-batu pasalatan (untuk sembahyang), padasan, para perdikan Mancanagara, mimbar, bedhug Masjid Besar Kyai Rembeg. Semua benda-benda pusaka tersebut diberi payung kuning, diletakkan di atas gendhaga.
16. Pohon beringin pukuran (yang ditanam di alun-alun Selatan/pukuran) diiringi oleh Abdi Dalem Pancar Mancanagara.
17. Abdi Dalem Dagang, sudagar, kriya, pangindung, blatik (pedagang kambing), mudel, umbal, mranggi, pangukir, rakyat jelata Karaton Kartasura.
18. Binatang ternak milik para putera sentana, para Bupati, Kliwon, Panewu Mantri beserta anak buahnya.
19. Abdi Dalem Pandhelegan, tukang mencari ikan, tukang baita (perahu), pambelah, jurumudi, jagal (penyembelih hewan).
20. Narindu milik Raja dijaga oleh Abdi Dalem Tuwa Baru dan Abdi Dalem Mancanegara Kilen.
21. Abdi Dalem Mancanagara wetan dan kulon, membawa pusaka meriam Nyai Setomi dan meriam-meriam lainnya.

Yang turut di dalam perpindahan tersebut kurang lebih ada 50 ribu orang (limang leksa). Didalam perjalanan tersebut sangat lambat. Jarak antara istana Kartasura sampai desa Sala memakat waktu kurang tujuh jam. Jalan yang dilalui, mula-mula merupakan jalan setapak melewati hutan dan semak belukar. Hutan dan semak belukar itu ditebas untuk dijadikan jalan perpindahan. Jalan itu sekarang adalah jalan Pasar Klewer ke barat terus sampai ke kartasura, melalui alun-alun Kerajaan Pajang, dan berangkat dari Alun-alun Kartasura.

Setelah sampai di desa Sala, segera diadakan pengaturan pembagian tempat. Smentara para “:Pandherek” masih berkumpul di alun-alun. Setelah istirahat beberapa lama, diadakanlah upacara menghadap Raja (pasewakan agung). Tempatnya di Tatag Rambat (sekarang pagelaran). Pada pasewakan agung itu bersabdalah Sunan Paku Buwana II kepada segenap hadirin:

Heh kawulaningsun, kabeh padha ana miyarsakna pangandikaningsun! Ingsun karsa ing mengko wiwit dina iki, desa ing Sala ingsun pundhut jenenge, ingsun tetepake dadi negaraningsun, ingsun parigi jeneng Negara Surakarta Hadiningrat. Sira padha angertekna sakawulaningsun satalatah ing Nusa Jawa kabeh.

(Pawarti Surakarta 1939 = 26).

(Hai hambaku, dengarkan semuanya sabda saya. Saya berkeinginan sejak hari ini, desa di Sala saya ambil namanya, saya tetapkan menjadi negara saya, saya beri nama negara Surakarta Hadiningrat. Kalian siarkanlah ke seluruh rakyatku di seluruh wilayah Tanah Jawa seluruhnya).

Kemudian diadakan doa syukur, dan diadakan penanaman pohon beringin kurung sakembaran di alun-alun utara (muka) dipimpin oleh Patih Pringgalaya dan Patih Sindureja. Beringin itu diberi nama: sebelah Timur, Kyai Jayandaru dan sebelah Barat, Kyai Dewandaru. Sedang pohon beringin kurung sekembaran yang ditanam di alun-alun selatan (pungkuran, belakang) dilaksanakan oleh Bupati Mancanegara.

Setelah selesai diadakan selamatan selesailah upacara perpindahan pusat kerajaan dari Kartasura ke Surakarta Hadiningrat. Lama pembangunan bangunan Kompleks istana memakan waktu sekitar delapan bulan, sering dilakukan kerja siang malam.

Selanjutnya selama lebih kurang satu bulan warga kota baru itu diperkenankan menngadakan “bujana handrawina”, berpesta pora di rumah masing-masing atau bersama-sama dengan para lurah (pemimpin) mereka.

Babad Giyanti menambahkan:’segalanya telah berjalan dengan baik sebagaimana mestinya (satata amamangun) dan biarpun tanah tidak rata, para pembesar bergegas membangun kediaman mereka yang baru dengan teratur (samya atata wisma).

Dengan naskah itu, tampak bahwa persyaratan nujum lebih penting dari pada topografi tanah. Di samping itu, istana ditetapkan sebagai bagian utama. Kita juga diberitahu bahwa pemberkatan tanah itu hanya dapat dilakukan dengan bantuan pelbagai benda keramat yang dialihkan dari Karaton terdahulu, yaitu keempat pohon waringin, bangsal pangrawit-yang sangat keramat karena mengandung bongkah batu yang dianggap bekas singgasana Hayam Wuruk (hal ini menjamin keterkaitannya dengan Majapahit)- seperti juga berbagai pusaka yang merupakan jaminan bahwa wahyu benar-benar ada pada raja yang sedang memerintah.

Kediaman para bangsawan menempati satu kawasan berisi empat yang luas, yang dikelilingi oleh tembok tinggi 3-6 meter, yang dinamakan Baluwarti/benteng (dari bahasa Portugis baluarte), dan belum lama berselang oleh sebuah parit (jagang). Ruang bertembok itu diantara dua alun-alun bujursangkar yang luas, alun-alun utara dan selatan. Di Surakarta benteng itu berukuran 1000 x 1800 meter ; di Yogyakarta dinding itu melingkari wilayah seluas 140 ha.

Monday, 20 June 2011

Pemkot Solo pantau serius rencana mal di bekas Pabrik Es Saripetojo


Solo (Solopos.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menilai rencana pembangunan gedung di lahan kosong bekas Pabrik Es Saripetojo harus mendapatkan perhatian serius. Ini lantaran tak jauh dari lokasi proyek yang akan dibangun sebuah mal itu, terdapat sejumlah pasar tradisional.Pernyataan itu diungkapkan Wakil Walikota (Wawali) Solo, FX Hadi Rudyatmo (Rudy), saat dimintai tanggapan tentang rencana pembangunan Mal Ramayana di lahan bekas Pabrik Es Saripetojo, Minggu (19/6). Namun diakui Rudy, pihaknya belum mengetahui secara pasti pemanfaatan pembangunan proyek di lokasi itu. Sebab menurut dia, status kepemilikan lahan dan bangunan bekas Pabrik Es Saripetojo tersebut di tangan Pemerintah Provinsi Jateng. Dari Pemkot, sebatas pemberian izin pemanfaatan ruang (IPR).

”Hingga saat ini kami memang belum mengetahui secara pasti di kawasan itu akan dibangun apa. Entah itu mal atau pusat perbelanjaan lainnya. Namun kami meminta hal ini menjadi perhatian tersendiri,” tegas Rudy kepada wartawan di Balaikota.
Wawali meminta Pemerintah Provinsi Jateng maupun pelaksana proyek tidak asal membangun. Khususnya bila proyek itu mengarah kepada pembangunan mal atau pusat perbelanjaan lainnya. Hal itu mengingat ada sejumlah pasar tradisional yang berlokasi di sekitar bekas pabrik es tersebut.
”Kalau memang akan dibangun, kami minta tidak asal membangun. Terutama bila benar dibangun mal atau supermarket. Harus pula diperhatikan keberadaan pasar-pasar tradisional yang ada di sekitarnya, jangan sampai pasar-pasar itu habis atau mati. Lain halnya kalau mal itu nantinya bisa melibatkan pasar-pasar di sekitarnya, misalnya dengan memasukkan pedagang pasar-pasar yang ada ke mal tersebut, mungkin akan lebih dipertimbangkan oleh Pemkot,” tegasnya.

Sementara itu, terkait keberadaan bangunan Pabrik Es Saripetojo, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng masih mengkaji status bangunan tersebut. Sebab diketahui selama ini bangunan itu masuk dalam daftar bangunan cagar budaya (BCB).

”Saat ini kami masih mengkaji tentang status bangunan Pabrik Es Saripetojo karena bangunan itu masuk dalam daftar BCB. Kepada Pemerintah Provinsi Jateng, sebenarnya kami pernah merekomendasikan untuk menunggu hasil kajian BP3 terlebih dulu. Namun menurut informasi yang kami peroleh, dalam waktu dekat justru sudah ada proyek pembangunan di kawasan itu,” ujar Kasi Pelestarian dan Pemanfaatan BCB BP3 Jateng, Gutomo, saat dihubungi melalui telepon genggamnya.

Wednesday, 1 June 2011

Catatan Pendakian Gunung Slamet (3428m dpl)


Meleset dari perencanaan yang semula akan diikuti oleh 6 orang, ternyata yang bergabung hanya 4 orang (Gue, Badru, Rohmat, dan Yatno). Teman kami yang 2 tidak bisa ikut karena ada kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan. (Ga tau tuh ada kesibukan apa Nugroho ma temennya..) Sesuai dengan rencana awal.., kami akan melakukan pendakian dari Kaliwadas – Kecamatan Sirampok Kabupaten Brebes (tempat yang sebelumnya belum pernah ku dengar..)
Rabu, 08 April 2009

Dengan berbekal seadanya dan persiapan yang memang udah d persiapkan jauh2 hari.. akhirnya q meluncur ke Temanggung. Ya.. rumahnya mas Rohmat. Karena plan awal memang disana kumpulnya. Setelah cari mencari bus akhirnya dapet juga bus nya.. SAFARI.. Bus jurusan solo-semarang melaju dengan kencangnya.. akhirnya sampai juga di terminal Bawen. Berhubung waktu udah menunjukkan pukul 19.00 WIB q kehabisan bus dah.. sejam.. dua jam.. kagak ada juga bis yang jurusan Temanggung lewat. Akhirnya setelah calling-callingan dengan mas Rohmat, q putuskan untuk naik bus yang ke jurusan Jogja. Nanti q jemput di Secang..!! kata mas Rohmat. Beres dah.. akhirnya q naik NUSANTARA.. bus yang menuju ke jogja. Jam 22.00 nyampe juga di Secang. Lagi2 nunggu.. mas Rohmat belum menampakkan batang hidung nya.. hmmmm… nunggu lagi…batinku dalam hati. kali ini q nunggu nya di warung mie ayam aja dah.. laper juga soalnya.. setelah datang mas Rohmat bilang tadi ngelesi dulu sebelum jemput. Haduh… capek dwehhhh.. capek nunggu nya maksudnya..”pantesan lama..” pikirku..

Dari tempat q makan mie ayam menu favorit ku.. liat mas Rohmat dateng nggak sendiri.. ternyata ada Badru.. Dia ma Mas Rohmat jemput q d Secang. Berhubung carierku gueeedheeee nya minta ampun jadi ga usah bolak balik deh karena udah bawa motor dua.. Setelah nyampe d rumah mas Rohmat langsung tancap buat istirahat ..

Kamis, 09 April 2009

Keesokan paginya si Yatno masih belom nonggol.. kemana tu anak.., waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 belum kelihatan juga. Pukul 07.25 baru kedengeran tuh suara motornya berhenti depan rumah mas Rohmat. Udah siang mas kataku.. usut punya usut ternyata ada masalah dengan motornya. Jadi agak molor deh.. Setelah melewati perdebatan yang panjang lebar akhirnya kami sepakat lewat rute Kaliwadas. Rute yang sebelumnya pernah ditutup selama 13 tahun karena ada pendaki yang kena musibah kejatuhan batu hingga meninggal (kata sang pemandu mas Tamsil). “Wah… berarti ntar kita babat alas dunk..” iam so excited bangetttttt…. Wis ayo gek ndang gage..

Setelah mempersiapkan perbekalan dan packing akhirnya kami berangkat menuju Purwokerto pukul 09.30, begitu dapat bis “Maju Makmur” ya ampun…!!! Hanya bias nelen ludah.. udah bis nya jelek, penumpangnya berjubel-jubel kaya ada pembagian BLT.., tapi daripada nunggu lebih lama lagi akhirnya ikut bis itu aja, Yatno sampe kaya kondektur gelantungan di pintu bis. Busyeeetttt dah…. Setelah menempuh 4 jam perjalanan dan bayar 25 ribu akhirnya sampe juga di Terminal Purwokerto, dan langsung ganti bis “Teguh”, kali ini ibis nya lumayan.. lumayan kecil maksudnya.. dan kamipun turun di pertigaan “Kali Gadung” dengan membayar 8 ribu. Dari Kali Gadung kami langsung ganti angkot L300 turun di “Pengasinan” kali ini bayarnya 10 ribu. Masalah mulai timbul di Pengasinan, Apa ya kira-kira??? Yup betul di Pengasinan jika sore hari sudah tidak ada angkot. Mati aku…!!! belum nyampe puncak udah pegel duluan ki.. Angkot yang menuju sampai Dawuhan hanya ada sampai pukul 11.00. Dengan pertimbangan financial yang kami punya akhirnya kami putuskan untuk jalan kaki dari pengasinan sampai Kaliwadas. E..e… nasib mujur menghampiri kami.. Baru berjalan 10 menit, eh…ada mobil lewat, kitapun ikut numpang sampe desa Batursari. Lumayan… Gretongan pula.. Dari Batursari kami lanjutkan perjalanan dengan jalan kaki dan sampai di Kaliwadas pukul 20.00 wib, tepatnya di rumah ”Bu Haji” sang juru kunci.

Nyampe di Kaliwadas kami dibuat bingung dan terheran2.. bayangpun.. masa ada tempat yang ada listriknya dan ada yang nggak dapet listrik.. padahal masih satu kampung. Masih satu RT malah.. hmmm… tapi waktu kami datang ke Kaliwadas suasana cukup ramai oleh warga karena saat itu bertepatan dengan pilkada desa. Dan kami pun disambut oleh Bu Hajji dengan hangat.

Jumat, 10 April 2009

Pukul 05.00 pagi kami semua sudah terbangun, setelah mandi ditengah dinginnya udara pagi, Bu Hajji sudah mempersiapkan sarapan nasi goreng dengan lauk seadanya untuk kami ber-empat. Baik bener ya Bu Hajji..

Rencananya kami akan mulai start pendakian pukul 08.00 dengan bantuan mas Tamil (penduduk setempat), orang yang berpapasan dengan kami saat perjalanan ke Kaliwadas tadi malam, dan dia bersedia untuk jadi pemandu jalan kami alias porter. Setelah semua berkumpul kamipun segera berangkat dengan terlebih dahulu pamitan dengan Bu Haji.

Kaliwadas – Tuk Suci

Start pendakian dimulai dengan melalui kebun penduduk yang kebanyakan ditanami kentang dan kol sampai akhirnya tiba diperbatasan hutan dan kebun. Ambil kanan ya.., karena disitu ada pertigaan. Sekitar kurang lebih 30 menit kita akan sampai di sebuah tempat yang dinamakan Tuk Suci yaitu mata air yang dibendung untuk kebutuhan pengairan desa dibawahnya. Komando sang porter. Disini kami mengisi perbekalan air karena setelah ini tidak ada lagi mata air. Eh sory masih ada dink...!! kata Tamil di Sumur Pengantin masih ada mata air tapi kita harus jalan kaki dulu dari pertigaan Taman Wlingi sekitar 30 menit. Dan tau ga.. katanya tu Sumur juga masih banyak mitos2 yang aneh2.. hmmmm syereeeemmmm….


Tuk Suci – Pondok Growong

Perjalanan dilanjutkan dengan melewati hutan pringgondani yaitu hutan bambu berukuran kecil, 30 menit waktu yang dibutuhkan untuk sampai di pos 1 Pondok Growong yaitu sebuah pohon besar yang tengah pohonnya berlubang cukup besar. Katanya sih situ juga jadi salah satu “Istana”.. Selepas mengambil gambar secukupnya kamipun melanjutkan perjalanan

Pondok Growong – Taman Wlingi

Jalur disini relatif datar dan lebar, tak lama berjalan kami melewati sebuah jembatan, Mas Tamsil menyebutnya Taman Wlingi. Di sini ati-ati ya, sebab kalau lurus kita ketemunya bukan puncak Slamet tetapi Sumur Penganten dimana disitu sering ada peziarah yang minta berka, dan bisa2 malah nyasar entah kemana..

Taman Wlingi – Pos II

Kita ambil kiri aja untuk bisa sampai ke Puncak Slamet mas Tamil mengomandoi.., jalurnya ya ampun..!, hampir tidak terlihat, bener2 ga ada jalan sama sekali.. udah ketutup sama tanaman yang seumur2 belum pernah q lihat. Durinya banyak bangettttt… pohon2 juga udah banyak yang bertumbangan.. harus bisa.. q harus bisa.. q menyemangati diriku sendiri. Karena disana yang terlihat hanyalah semak belukar dan pohon penyengat di kiri kanan serta banyak pohon yang tumbang. Sangat disarankan kalau melewati jalur ini jangan coba-coba pakai celana pendek dan baju pendek, dijamin merah semua kulitnya karena gatal-gatal karena ulah pohon penyengat dan tumbuhan berduri. Sekitar satu setengah jam perjalanan kami sampai di Pos II sebuah tanah datar yang tidak begitu luas. Tetapi cocoklah untuk rehat sejenak sebelum menghadapi pohon penyengat lagi dalam perjalanan menuju ke pos III. Bertempur lagi dah ma semak penyengat..


Pos II – Pos III

Jalur mulai menanjak, pemandangan disekitar kebanyakan pohon-pohon besar, di jalur ini juga kita bisa menemukan tumbuhan yang namanya ”Begonia”. Tanaman ini rasanya asem dan bisa digunakan sebagai pengganti air bila kita kehabisan air. Klo kehabisan air kita bisa makan batang Begonia ini. Kali ini jalur sudah mulai kelihatan tetapi tetap harus WASPADA karena banyak percabangan salah ambil jalur bisa-bisa kita malah sampainya di Baturaden. Kurang lebih dua jam akhirnya sampailah di pos III.

Pos III – Pos IV

Tanpa istirahat terlalu lama kamipun langsung melanjutkan perjalanan dengan melewati jalur yang terus menanjak dan di pertengahan antara pos 3-4 tim memutuskan untuk makan siang dahulu karena jam sudah menunjukkan pukul 13.30, menunya adalah nasi putih dan indomie goreng, nikmat banget rasanya... Kita sampai di pos IV atau Igir Manis setengah jam setelah makan siang.

Pos IV – Pos V

Perjalanan dilanjutkan dengan menaiki kawasan Gunung Malang jadi ya agak terjal. Tapi kami bisa melewatinya dan pukul 15.30 kita sampai di pos V, disini kita istirahat dulu sejenak karena setelah ini kita akan melewati punggungan Gunung Malang yang agak terjal.

Pos V – Plawangan

Setelah beberapa menit melewati jalur terjal akhirnya jalur mulai terbuka yang ditandai dengan ilalang ilalang, dan disini jalurnya sudah agak landai. Di Igir Tjowek ini juga kami mendapati pertigaan jalur dari arah Baturaden dan kami ambil kiri. Masukan dari sang porter. Disini puncak slamet mulai terlihat, tetapi untuk sampai di Plawangan kita masih harus melewati dua bukit Gunung Malang. Bener2 perjalanan yang melelahkan.. muter..muter.. ga ada habisnya.. Dan sekitar pukul 17.00 akhirnya kami sampai juga di pos Plawangan. Plawangan merupakan sebuah tanah yang cukup datar di daerah terbuka, sekaligus merupakan batas vegetasi. Disini kami bisa menikmati indahnya sunset Gunung Slamet. Setelah melepas lelah sejenak kami mulai mendirikan tenda. Dan menanak nasi untuk menu makan malam, kali ini lauknya telur. Hmmm… nyummyyyy…

Sabtu, 11 April 2009


Plawangan – Puncak

Pukul 03.30 kami semua terbangun, mempersiapkan perbekalan untuk ke summit. Untuk memperingan beban, tenda dan carier kami tinggal. Pokoke semua yang ga perlu kami tinggal. Dan kmi pun tidak merasa takut kehilangan barang2 kami karena yang ada d situ cuma kami berlima saja. Ga ada orang selain kami. (Jadi silahkan kalian bayangkan sendiri situasinya.. he5x..). Kami memulai perjalanan ke puncak pukul 03.45, dan ternyata Allah masih melindungi kami karena bulan Purnama penuh ikut menerangi perjalanan kami. Dan lintasan semakin parah karena kami harus melewati batuan cadas dan labil dimana kiri kanan sudah tidak ada tumbuhan sama sekali. Disini kami perlu ekstra waspada dan hati-hati, semakin keatas lintasan semakin terjal hingga mencapai sudut 600. Bau belerang mulai menyengat ketika kami sampai dipuncak bayangan, Butuh waktu untuk menyisiri gigir kawah dan melewati Tugu Surono (Tumpukan batu), dan akhirnya kami sampai di puncak tertinggi ke-2 di pulau Jawa pukul 05.40. Alhamdullillah… Sungguh perasaan yang tak bisa diuraikan dengan kata2 setelah sampai d puncak..


Puas rasanya akhirnya kami dan khususnya q sendiri bisa mencapai puncak Slamet lewat punggung Barat dengan cuaca sangat bersahabat. Dari atas puncak Slamet q melihat ke sebelah timur dan menemukan sunrise yang anggun, Gunung Sindoro, Sumbing, dan Merapi yang seakan menjadi tiang penyangga langit Jawa Tengah. Menoleh ke Barat melihat Gn.Ceremei yang berdiri kokoh sendirian. Sungguh pengalaman yang luar biasaaaa…..

Setelah puas ber-narsis-narsis ria kami pun turun dan kembali ke Kaliwadas.


Alternatif transportasi :
Jika sampai di terminal Bumiayu kurang dari jam 11.00, langsung aja naik angkot jurusan Dawuhan/Kaliwadas, taripnya 15 ribu.
Jika bawa rombongan banyak mending carter mobil aja yang banyak ngetem di terminal Bumiayu sampai Kaliwadas, taripnya nego sendiri yang jelas lebih murah.
Jika angkot hanya bisa sampe Pengasinan, dan ada duit lebih ngojek aja dari Pengasinan ke Kaliwadas taripnya antara 20 ribu – 30 ribu per orang.

Nb :
Dari cerita-cerita yang saya dengar berbeda dengan jalur bambangan yang merupakan jalur gaib, jalur kaliwadas ini merupakan surga bagi flora dan fauna dimana jika kita beruntung kita bisa bertemu wild animal seperti macan jawa, elang jawa (waktu itu q juga sempet liat..), kera-kera liar, lutung, ayam hutan, juga flora seperti kantung semar, pohon-pohon berumur ratusan tahun, dan tentunya edelwis.

Anggota tim ekspedisi kali ini ada 4 orang :
Q sendiri (Solo), Rochmat (Temanggung), Yatno (Klaten), Badru (Pekalongan).

Anak Ini Melawan Arus Sungai & Buaya demi Sekolah


SUMBA TIMUR- Semangat anak-anak di pedalaman Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam menimba ilmu patut ditiru. Untuk mencapai ke sekolah saja, mereka harus menempuh jarak berkilo meter.

Bahkan di tengah perjalanan, mereka harus rela menanggalkan pakaian untuk masuk ke sungai dan melawan derasnya arus. Potret keteguhan dan semangat anak-anak ini dapat dilihat setiap hari di Kelurahan Maulumbi, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur.

Saat pagi menjelang, para ibu di Kampung Pada Karambua mempersipakan anak mereka yang akan berangkat ke taman kanak-kanak dan sekolah dasar.

Hanya beralaskan sandal jepit, bahkan tidak sedikit yang tak beralas telapak kaki, sama sekali tidak menyurutkan anak-anak itu pergi ke sekolah.

Saat tiba di mulut sungai, anak-anak harus melepas pakaian dan menjunjung buku serta tasnya untuk menyeberangi sungai yang lebar dan dalam. Mereka harus mempertahankan tubuh agar tidak terbawa arus yang cukup kuat.

Jika air pasang, orangtua harus menemani mereka menyeberang. Menyebrangi sungai merupakan satu-satunya jalan untuk pergi ke sekolah.

Stefanus, warga Kampung Pada Karumba, menuturkan jika sungai meluap karena curah hujan tinggi, tak ada jalan lagi. Anak-anak terpaksa tidak bersekolah.

Ada pula yang menggunakan satu-satunya sampan kecil milik salah seorang warga, namun daya angkutnya terbatas. Jika harus antre menggunakan sampan kecil anak-anak tentu akan terlambat.

Keprihatinan ternyata tak hanya sampai di sini, setiap pergi dan pulang ke sekolah, kekhawatiran akan ancaman buaya senantiasa menghantui para orangtua.

Amros dan Wulan, anak sekolah warga Kapung Pada Karumba, mengatakan sebelumnya pernah temannya dan warga yang tewas diterkam buaya.

Warga berharap ada perhatian dari pemerintah setempat agar anak-anak mereka bisa pergi ke sekolah tidak dengan kondisi membahayakan. Jembatan atau ketersediaan perahu penyeberangan, tentu akan sangat membantu warga. Sehingga anak-anak perlu merasa nyaman dan aman menimba ilmu.

(Dion Umbu Ana Lodu/TPI/ton)

Tuesday, 31 May 2011

10 Syarat Jadi Pria Maskulin


Pria maskulin bukan ditandai oleh tubuh yang berotot. Bagi sebagian besar perempuan, tubuh yang dihiasi otot di mana-mana justru kurang menarik. Kalau wajah tampan? Hmm... itu relatif.
Wajah tampan jika disertai 10 "syarat" berikut bisa menunjukkan dialah laki-laki sejati. Lalu, apa saja ke-10 syarat itu?
1. Percaya Diri dan Jujur : Di mata gadis-gadis, cowok yang kurang pede bukanlah laki-laki sejati. Percaya diri dan menerima apa adanya alias jujur, se-cheesy apa pun, itulah yang menjadi daya tarik.

2. Punya Rasa Humor : Cewek-cewek punya kecenderungan menganggap pria yang punya rasa humor lebih maskulin. Bahkan, pria yang tidak pernah datang ke gym pun dapat menjadi maskulin, asalkan lucu!

3. Bertubuh Wangi : Jangan lupa mandi dua kali sehari. Jika tubuh Anda menebarkan aroma tidak enak, cewek-cewek pun akan menjauh dengan cepat. Karena itu, jangan lupa memakai deodoran atau parfum setelah mandi, sebelum keluar rumah.

4. Olah Raga : Olah raga, tidak perlu gila-gilaan, yang penting bikin tubuh prima dan tidak lemas. Lucunya, menurut banyak survei, mereka yang rajin berlari clan berenang justru kurang disukai gadis-gadis.

5. Penampilan : Ekspresi wajah dan penampilan laki-laki dapat menentukan apakah ia maskulin atau tidak. Terus terang saja, untuk kriteria yang satu ini sangat berbeda di mata satu gadis dengan gadis yang lain. Jadi, tergantung selera. Yang penting, jangan cemberut!

6. Sopan dan Hormat : Kedengarannya agak aneh, tapi ini salah satunya. Perempuan paling suka jika ada pria yang memperlakukannya seperti seorang putri. Sekadar membukakan pintu sudah membuat perempuan berbunga-bunga dan maskulinitas Anda langsung meroket!

7. Punya Tujuan Hidup : Banyak perempuan tidak menyukai pria yang luntang-lantung, tidakjelas mau ke mana. Pria yang punya target akan membuat perempuan merasa lebih aman dan memandang serius si pria.

8. Pendengar yang Baik : Keahlian ini penting. Wajib dikuasai. Mendengarkan - tidak hanya untuk hal-hal remeh - perempuan berbicara menunjukkan bahwa Anda peduli. Keuntungan lain adalah melanggengkan persahabatan, bahkan dapat menyelamatkan pernikahan!

9. Punya Hobi : Perempuan suka pria yang gemar "memamerkan" hobinya dan bepergian ke mana-mana karena hobi itu. Beberapa hobi sangat menarik untuk beberapa tipe perempuan, selama Anda melakukannya dengan sungguh-sungguh.

10. Sensitif : Sensitif di sini bukan berarti Anda harus menangis sepanjang pemutaran film. Namun, menunjukkan empati dan sekali-kali menitikkan air mata (halal hukumnya) ketika mendengarkan apa yang dikatakan perempuan ternyata sangat-sangat maskulin di mata kaum Hawa. Tentu sajajangan berlebihan karena kesannya jadi cengeng.Pada akhirnya, menjadi maskulin adalah menjadi diri Anda sendiri dan menerima apa adanya diri Anda itu. Bahkan, walau Anda tampak seperti pecundang (maaf!) ketika melakukan sesuatu, ada kalanya perempuan akan menganggap Anda cute! Terutama jika Anda melakukannya dengan penuh percaya diri. Selamat mencoba!

http://www.faktacowok.com/2011/05/10-syarat-jadi-pria-maskulin.html

10 Planet Baru di Galaksi Bima Sakti



Liputan6.com, Wellington: Sepuluh planet baru "mengambang" melalui galaksi ditemukan tim astronom internasional yang dipimpin ilmuwan Selandia Baru. Kesepuluh planet berukuran Jupiter itu merupakan penemuan baru dalam sejarah Galaksi Bima Sakti. Penemuan menggunakan perangkat lunak yang dikembangkan ilmuwan komputer Universitas Massey, Wellington, Australia.


"Mereka planet raksasa di galaksi kita, sekitar ukuran Jupiter. Ternyata selam ini kesepuluh planet tersebut berada di suatu tempat di antara kita dan bintang-bintang," kata Ian Bond, seorang Astro Fisika, belum lama ini. Planet-planet itu diyakini berjarak sekitar dua-pertiga dari pusat galaksi, berjarak sekitar 25.000 tahun cahaya.



Jika mereka terlihat dengan mata telanjang, planet-planet itu akan menjadi gelap gulita, karena mereka tidak memancarkan cahaya. Planet baru ini bisa saja dikeluarkan dari sistem surya karena pertemuan gravitasi dekat dengan planet lain atau bintang. Kemungkinan besar planet baru tumbuh dari keruntuhan bola gas dan debu, tapi tak memiliki massa untuk menyalakan bahan bakar dan menghasilkan cahaya bintang sendiri.



Temuan itu menyebabkan para peneliti beraharap planet mengambang bebas seukuran Bumi yang dapat mendukung kehidupan. Meskipun hingga saat ini kemungkinan itu kecil, planet semacam itu belum terdeteksi.(Xinhua/AIS)

Sunday, 29 May 2011

Perkembangan Emosional Remaja

BAB I
PENDAHULUAN


Masalah yang sering terjadi pada perkembangan intelektual dan emosional remaja adalah ketidak seimbangan antara keduanya. Kemampuan intelektual mereka telah dirangsang sejak awal melalui berbagai macam sarana dan prasarana yang disiapkan di rumah dan di sekolah dengan berbagai media. Mereka telah dibanjiri informasi berbagai informasi, pengertian-pengertian, serta konsep-konsep pengetahuan melalui media massa (televisi, video, radio, dan film) yang semuanya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan para remaja sekarang.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat dan semakin modern mempengaruhi dunia pendidikan yang cenderung mengutamakan aspek kognitif (kecerdasan intelektual), sementara nilai-nilai afektif keimanan, ketakwaan, mengelola emosi dan akhlak mulia sebagaimana ditegaskan dalam Tujuan Pendidikan Nasional yaitu : untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa dan berakhlak mulia, kurang banyak dikaji dalam dunia pendidikan persekolahan.
Hal ini bukan karena tidak disadari esensinya, melainkan pendidikan lebih mengutamakan mengejar ilmu pengetahuan dari pada mendidik dan membina kepribadian dan akhlak mulia anak didik. Dunia pendidikan tidak mengembangkan nilai-nilai afektif sebagai dasar pmbinaan kepribadian anak yang menjadi tolok ukur pertama dan utama dalam pelaksanaan pendidikan di Negara kita, menjadi parsial atau tidak utuh sebagaimana diisyaratkan oleh Pendidikan Umum bahwa pendidikan menyeimbangkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Akibat nilai pendidikan parsial, tidak menyeimbangkan kognitif dan afektif, anak didik disatu pihak intelektualnya cerdas, kemampuan skill cakap dan terampil, di sisi lain potensi afeksi emosional tidak terbina terutama di kalangan remaja sehingga melahirkan erosi moral afektual, kultural dan menjadi penyebab dehumanisasi dan demoralisasi.
BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Emosi
Emosi adalah sebagai sesuatu suasana yang kompleks (a complex feeling state) dan getaran jiwa (a strid up state) yang menyertai atau munculnya sebelum dan sesudah terjadinya perilaku. (Syamsudin, 2005:114).
Sedangkan menurut Crow & crow (1958) (dalam Sunarto, 2002:149) emosi adalah “An emotion, is an affective experience that accompanies generalized inner adjustment and mental physiological stirred up states in the individual, and that shows it self in his overt behavior.”
Jadi emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak.
Menurut James & Lange, bahwa emosi itu timbul karena pengaruh perubahan jasmaniah atau kegiatan individu. Misalnya menangis itu karena sedih, tertawa itu karena gembira. Sedangkan menurut Lindsley bahwa emosi disebabkan oleh pekerjaan yang terlampau keras dari susunan syaraf terutama otak, misalnya apabila individu mengalami frustasi, susunan syaraf bekerja sangat keras yang menimbulkan sekresi kelenjar-kelenjar tertentu yang dapat mempertinggi pekerjaan otak, maka hal itu menimbulkan emosi.
2. Pengaruh Emosi Terhadap Perilaku dan Perubahan Fisik
Dibawah ini adalah beberapa contoh tentang pengaruh emosi terhadap perilaku individu di antaranya sebagai berikut:
a. Memperkuat semangat, apabila orang merasa senang atau puas atas hasil yang telah dicapai.
b. Melemahkan semangat, apabila timbul rasa kecewa karena kegagalan dan sebagai puncak dari keadaan ini ialah timbulnya rasa putus asa (frustasi).
c. Menghambat atau mengganggu konsentrasi belajar, apabila sedang mengalami ketegangan emosi dan bisa juga menimbulkan sikap gugup (nervous) dan gagap dalam berbicara.
d. Terganggu penyesuaian social, apabila terjadi rasa cemburu dan iri hati.
e. Suasana emosional yang diterima dan dialami individu semasa kecilnya akan mempengarui sikapnya dikemudian hari, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. (Yusuf, 2004 : 115)
Sedangkan perubahan emosi terhadap perubahan fisik (jasmani) antara lain:
a. Reaksi elektris pada kulit: meningkat bila terpesona,
b. Peredaran darah: bertambah cepat bila marah,
c. Denyut jantung: bertambah cepat bila terkejut,
d. Pernapasan: bernapas panjang kalau kecewa,
e. Pupil mata: membesar mata bila marah,
f. Liur: mengering kalau takut atau tegang,
g. Bulu roma: berdiri kalau takut,
h. Pencernaan: mencret-mencret kalau tegang,
i. Otot: ketegangan dan ketakutan menyebabkan otot menegang atau bergetar (tremor),
j. Komposisi darah: komposisi darah akan ikut berubah karena emosional yang menyebabkan kelenjar-kelenjar lebih aktif. (Sunarto, 2002:150)
3. Karakteristik Perkembangan Emosi
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “badai dan tekanan”, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya emosi terutama karena anak laki-laki dan perempuan berada dibawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu.
Tidak semua remaja mengalami masa badai dan tekanan. Namun benar juga bila sebagian besar remaja mengalami ketidak stabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola prilaku baru dan harapan sosial yang baru. (Hurlock, 2002 :213).
Pola emosi remaja adalah sama dengan pola emosi kanak-kanak. Jenis emosi yang secara normal dialami adalah cinta/kasih sayang, gembira, amarah, takut dan cemas, cemburu, sedih, dan lain-lain. Perbedaan yang terlihat terletak pada macam dan derajat rangsangan yang mengakibatkan emosinya, dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi remaja.
a. Cinta/kasih sayang
Faktor penting dalam kehidupan remaja adalah kapasitasnya untuk mencintai orang lain dan kebutuhannya untuk mendapatkan cinta dari orang lain. Kemampuan untuk menerima cinta sama pentingnya dengan kemampuan untuk memberinya.
Walaupun remaja bergerak ke dunia pergaulan yang lebih luas, dalam dirinya masih terdapat sifat kekanak-kanakanya. Remaja membutuhkan kasih sayang di rumah yang sama banyaknya dengan apa yang mereka alami pada tahun-tahun sebelumnya. Karena alasan inilah sikap menentang mereka, menyalahkan mereka secara langsung, mengolok-olok mereka pada waktu pertama kali karena mencukur kumisnya, adanya perhatian terhadap lawan jenisnya, merupakan tindakan yang kurang bijaksana.
Tidak ada remaja yang dapat hidup bahagia dan sehat tanpa mendapatkan cinta dari orang lain. Kebutuhan untuk memberi dan menerima cinta menjadi sangat penting, walaupun kebutuhan-kebutuhan akan perasaan itu disembunyikan secara rapi. Para remaja yang berontak secara terang-terangan, nakal, dan mempunyai sikap permusuhan besar kemungkinan disebabkan oleh kurangnya rasa cinta dan dicintai yang tidak disadari. (Sunarto, 2002:152)
Kebutuhan akan kasih sayang dapat diekspresikan jika seseorang mencari pengakuan dan kasih sayang dari orang lain, baik orang tua, teman dan orang dewasa lainnya. Kasih sayang akan sulit untuk dipuaskan pada suasana yang mobilitas tinggi. Kebutuhan akan kasih sayang dapat dipuaskan melalui hubungan yang akrab dengan yang lain. Kasih sayang merupakan keadaan yang dimengerti secara mendalam dan diterima dengan sepenuh hati, kegagalan dalam mencapai kepuasan kebutuhan kasih sayang merupakan penyebab utama dari gangguan emosional (Yusuf, 2005:206)
b. Gembira dan bahagia
Perasaan gembira dari remaja belum banyak diteliti. Perasaan gembira sedikit mendapat perhatian dari petugas peneliti dari pada perasaan marah dan takut atau tingkah problema lain yang memantulkan kesedihan. Rasa gembira akan dialami apabila segala sesuatunya berlangsung dengan baik dan para remaja akan mengalami kegembiraan jika ia diterima sebagai seorang sahabat atau bila ia jatuh cinta dan cintanya itu mandapat sambutan oleh yang dicintai.
Perasaan bahagia ini dihayati secara berbeda-beda oleh setiap individu. Bahagia muncul karena remaja mampu menyesuaikan diri dengan baik pada suatu situasi, sukses dan memperoleh keberhasilan yang lebih baik dari orang lain atau berasal dari terlepasnya energi emosional dari situasi yang menimbulkan kegelisahan dirinya.
c. Kemarahan dan Permusuhan
Sejak masa kanak-kanak, rasa marah telah dikaitkan dengan usaha remaja untuk mencapai dan memiliki kebebasan sebagai soerang pribadi yang mandiri. Rasa marah merupakan gejala yang penting diantara emosi-emosi yang memainkan peranan yang menonjolkan dalam perkembangan kepribadian.
Dalam upaya memahami remaja, ada empat faktor yang sangat penting sehubungan dengan rasa marah.
1. Adanya kenyataan bahwa perasaan marah berhubungan dengan usaha manusia untuk memiliki dirinya dan menjadi dirinya sendiri. Selama masa remaja, fungsi marah terutama untuk melindungi haknya untuk menjadi independent, dan menjamin hubungan antara dirinya dan pihak lain yang berkuasa.
2. Pertimbangan penting lainnya ialah ketika individu mencapai masa remaja, dia tidak hanya merupakan subjek kemarahan yang berkembang dan kemudian menjadi surut, tetapi juga mempunyai sikap-sikap di mana ada sisa kemarahan dalam bentuk permusuhan yang meliputi kemarahan masa lalu. Sikap permusuhan berbentuk dendam, kesedihan, prasangka, atau kecendrungan untuk merasa tersiksa. Sikap permusuhan tanpak dalam cara-cara yang bersifat pura-pura; remaja bukannya menampakkan kemarahan langsung tetapi remaja lebih menunjukkan keinginan yang sangat besar.
3. Perasaan marah sengaja disembunyikan dan seringkali tampak dalam bentuk yang samar-samar. Bahkan seni dari cinta mungkin dipakai sebagai alat kemarahan.
4. Kemarahan mungkin berbalik pada dirinya sendiri. Dalam beberapa hal, aspek ini merupakan yang sangat penting dan juga paling sulit dipahami. (Sunarto, 2002:154)
d. Ketakutan dan Kecemasan
Menjelang anak mencapai remaja, dia telah mengalami serangkaian perkembangan panjang yang mempengaruhi pasang surut berkenaan dengan rasa ketakutannya. Beberapa rasa takut yang terdahulu telah teratasi, tetapi banyak yang masih tetap ada. Banyak ketakutan-ketakutan baru muncul karena adanya kecemasan dan rasa berani yang bersamaan dengan perkembangan remaja itu sendiri.
Remaja seperti halnya anak-anak dan orang dewasa, seringkali berusaha untuk mengatasi ketakutan yang timbul dari persoalan kehidupan. Tidak ada seorangpun yang menerjunkan dirinya dalam kehidupan dapat hidup tanpa rasa takut. Satu-satunya cara untuk menghindarkan diri dari rasa takut adalah menyerah terhadap rasa takut, seperti terjadi bila seorang begitu takut sehingga ia tidak berani mencapai apa yang ada sekarang atau masa depan yang tidak menentu
Rasa takut yang disebabkan otoriter orang tua akan menyebabkan anak tidak berkembang daya kreatifnya dan menjadi orang yang penakut, apatis, dan penggugup. Selanjutnya sikap apatis yang ditimbulkan oleh otoriter orang tua akan mengakibatkan anak menjadi pendiam, memencilkan diri, tak sanggunp bergaul dengan orang lain (Willis, 2005:57)
e. Frustasi dan Dukacita
Frustasi merupakan keadaan saat individu mengalami hambatan-hambatan dalam pemenuhan kebutuhannya, terutama bila hambatan tersebut muncul dari dirinya sendiri. Konsekuensi frustasi dapat menimbulkan perasaan rendah diri.
Dukacita merupakan perasaan galau atau depresi yang tidak terlalu berat, tetapi mengganggu individu. Keadaan ini terjadi bila kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat berarti buat kita. Kalau dialami dalam waktu yang panjang dan berlebihan akan menyebabkan kerusakan fisik dan psikis yang cukup serius hingga depresi.
(http://www.kompas.com/kompas-cetak/htm)
Biehler (1972) dalam (Sunarto, 2002:155) membagi ciri-ciri emosional remaja menjadi dua rentang usia, yaitu usia 12–15 tahun dan usia 15–18 tahun
Ciri-ciri emosional remaja usia 12-15 tahun :
a) Pada usia ini seorang siswa/anak cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka.
b) Siswa mungkin bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri.
c) Ledakan-ledakan kemarahan mungkin saja terjadi.
d) Seorang remaja cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan membenarkan pendapatnya sendiri yang disebabkan kurangnya rasa percaya diri.
e) Remaja terutama siswa-siswa SMP mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara lebih obyektif.
Ciri-ciri emosional remaja usia 15–18 tahun :
a) ‘Pemberontakan’ remaja merupakan pernyataan-pernyataan/ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak ke dewasa.
b) Karena bertambahnya kebebasan mereka, banyak remaja yang mengalami konflik dengan orang tua mereka.
c) Siswa pada usia ini seringkali melamun, memikirkan masa depan mereka. Banyak di antara mereka terlalu tinggi menafsirkan kemampuan mereka sendiri dan merasa berpeluang besar untuk memasuki pekerjaan dan memegang jabatan tertentu.
4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Emosi
Sejumlah penelitian tentang emosi anak menunjukkan bahwa perkembangan emosi mereka bergantung kepada faktor kematangan dan faktor belajar (Hurlock, 2002: 154). Reaksi emosional yang tidak muncul pada awal kehidupan tidak berarti tidak ada, reaksi tersebut mungkin akan muncul dikemudian hari, dengan berfungsinya sistem endokrin. Kematangan dan belajar terjalin erat satu sama lainnya dalam mempengaruhi perkembangan emosi.
Untuk mencapai kematangan emosi, remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Adapun caranya adalah dengan membicarakan pelbagai masalah pribadinya dengan orang lain. Keterbukaan, perasaan dan masalah pribadi dipengaruhi sebagian oleh rasa aman dalam hubungan sosial dan sebagian oleh tingkat kesukaannya pada “orang sasaran” (Hurlock, 2002:213).

Metode belajar yang menunjang perkembangan emosi antara lain :
a. Belajar dengan coba-coba
b. Belajar dengan cara meniru
c. Belajar dengan cara mempersamakan diri (learning by identification)
d. Belajar melalui pengkondisian
e. Belajar dibawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi (Sunarto, 2002:158)
5. Hubungan Antara Emosi Dan Tingkah Laku Serta Pengaruh Emosi Terhadap Tingkah Laku
Rasa takut dan marah dapat menyebabkan seorang gemetar. Dalam ketakutan, mulut menjadi kering, cepatnya jantung berdetak, derasnya aliran darah, sistem pencernaan mungkin berubah selama permunculan emosi. Keadaan emosi yang menyenangkan dan relaks berfungsi sebagai alat pembantu untuk mencerna, sedangkan perasaan tidak enak menghambat pencernaan.
Gangguan emosi dapat menjadi penyebab kesulitan berbicara. Hambatan-hambatan dalam berbicara tertentu telah ditemukan bahwa tidak disebabkan oleh kelainan dalam organ berbicara. Ketegangan emosional yang cukup lama mungkin menyebabkan seseorang menjadi gagap.
Sikap takut, malu-malu merupakan akibat dari ketegangan emosi dan dapat muncul dengan hadirnya individu tertentu. Karena reaksi kita yang berbeda-beda terhadap setiap orang yang kita jumpai, maka jika kita merespon dengan cara yang sangat khusus terhadap hadirnya individu tertentu akan merangsang timbulnya emosi tertentu.
Suasana emosional yang penuh tekanan di dalam keluarga berdampak negatif terhadap perkembangan remaja. Sebaliknya suasana penuh kasih sayang, ramah, dan bersahabat amat mendukung pertumbuhan remaja menjadi manusia yang bertanggung jawab terhadap keluarga. Dengan demikian dialog antara orang tua dengan remaja sering terjadi. Dalam dialog tersebut mereka akan mengungkapkan keresahan, tekanan batin, cita-cita, keinginan, dan sebagainya. Akhirnya jiwa remaja akan makin tenang. Jika demikian maka remaja akan mudah diajak untuk bekerja sama dalam rangka mengajukan dirinya dibidang pendidikan dan karir (Willis,2005:22)
6. Perbedaan Individual Dalam Perkembangan Emosi
Dengan meningkatnya usia anak, semua emosi diekspresikan secara lebih lunak karena mereka telah mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang berlebihan, sekalipun emosi itu berupa kegembiraan atau emosi yang menyenangkan lainnya. Selain itu karena anak-anak mengekang sebagian ekspresi emosi mereka, emosi tersebut cenderung bertahan lebih lama daripada jika emosi itu diekspresikan secara lebih terbuka. Oleh sebab itu, ekspresi emosional mereka menjadi berbeda-beda.
Perbedaan itu sebagian disebabkan oleh keadaan fisik anak pada saat itu dan taraf kemampuan intelektualnya, dan sebagian lagi disebabkan oleh kondisi lingkungan. Anak yang sehat cenderung kurang emosional dibandingkan dengan anak yang kurang sehat. Ditinjau kedudukannya sebagai anggota suatu kelompok, anak-anak yang pandai bereaksi lebih emosional terhadap berbagai macam rangsangan dibandingkn dengan anak-anak yang kurang pandai. Tetapi sebaliknya, mereka juga cenderung lebih mampu mengendalikan ekspresi emosi.
Ditinjau kedudukannya sebagai anggota suatu kelompok keluarga, anak laki-laki lebih sering dan lebih kuat mengekspresikan emosi yang sesuai dengan jenis kelamin mereka. Misalnya marah bagi laki-laki, dibandingkan dengan emosi takut, cemas, dan kasih sayang yang dianggap lebih sesuai bagi perempuan. Rasa cemburu dan marah lebih umum terdapat di kalangan keluarga besar, sedangkan rasa iri lebih umum umum terdapat di kalangan keluarga kecil. Rasa cemburu dan ledakan marah juga lebih umum dan lebih kuat di kalangan anak pertama dibandingkan dengan anak yang lahir kemudian dalam keluarga yang sama.

7. Upaya Pengembangan dan Pengelolaan Emosi serta Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Rasa marah, kesal, sedih atau gembira adalah hal yang wajar yang tentunya sering dialami remaja meskipun tidak setiap saat. Pengungkapan emosi itu ada juga aturannya. Supaya bisa mengekspresikan emosi secara tepat, remaja perlu pengendalian emosi. Akan tetapi, pengendalian emosi ini bukan merupakan upaya untuk menekan atau menghilangkan emosi melainkan:
a. Belajar menghadapi situasi dengan sikap rasional
b. Belajar mengenali emosi dan menghindari dari penafsiran yang berlebihan terhadap situasi yang dapat menimbulkan respon emosional. Untuk dapat menanfsirkan yang obyektif, coba tanya pendapat beberapa orang tentang situasi tersebut.
c. Bagaimana memberikan respon terhadap situasi tersebut dengan pikiran maupun emosi yang tidak berlebihan atau proporsional, sesuai dengan situasinya, serta dengan cara yang dapat diterima oleh lingkungan social.
d. Belajar mengenal, menerima, dan mngekspresikan emosi positif (senang, sayang, atau bahagia dan negative (khawatir, sedih, atau marah)
Kegagalan pengendalian emosi biasanya terjadi karena remaja kurang mau bersusah payah menilai sesuatu dengan kepala dingin. Bawaannya main perasaan. Kegagalan mengekspresikan emosi juga karena kurang mengenal perasaan dan emosi sendiri sehingga jadi “salah kaprah” dalam mengekspresikannya.
Karena itu, keterampilan mengelola emosi sangatlah perlu agar dalam proses kehidupan remaja bisa lebih sehat secara emosional. Keterampilan mengelola emosi misalnya sebagai berikut:
a. Mampu mengenali perasaan yang muncul
b. Mampu mengemukakan perasaan dan dapat menilai kadar perasaan
c. Mampu mengelola perasaan
d. Mampu mengendalikan diri sendiri
e. Mampu mengurangi stress.
Dalam keseharian remaja juga harus berlatih untuk melakukan dialog dengan diri sendiri dalam menghadapi setiap masalah, bersikap positif dan optimistis, serta mampu mengembangkan harapan yang realistis. Remaja juga harus mampu menafsirkan isyarat-isyarat social. Artinya, mengenali pengaruh sosial terhadap perilaku remaja dan melihat dampak perilaku remaja, baik terhadap diri sendiri maupun masyarakat dimana remaja berada. Remaja juga harus dapat memilih langkah-langkah yang tepat dalam setiap penyelesaian masalah yang remaja hadapi dengan mempertimbangkan resiko yang akan terjadi (http://www.kompas.com/kompas-cetak/htm).
Meskipun demikian, pendekatan dan pemecahan dari pendidikan merupakan salah satu jalan yang paling strategis, karena bagi sebagaian besar remaja bersekolah dengan para pendidikan, khususnya gurulah yang paling banyak mempunyai kesempatan berkomunikasi dan bergaul.
Dalam kaitannya dengan emosi remaja awal yang cenderung banyak melamun dan sulit diterka, maka satu-satunya hal yang dapat dilakukan oleh guru adalah konsisten dalam pengelolaan kelas dan memperlakukan siswa seperti orang dewasa yang penuh tanggung jawab. Guru-guru dapat membantu mereka yang bertingkah laku kasar dengan jalan mencapai keberhasilan dalam pekerjaan sekolah sehingga mereka menjadi anak yang lebih tenang dan lebih mudah ditangani. Salah satu cara yang mendasar adalah dengan mendorong mereka untuk bersaing dengan diri sendiri.
Apabila ada ledakan kemarahan sebaiknya kita memperkecil ledakan emosi tersebut, misalnya dengan jalan tindakan yang bijaksana dan lemah lembut, mengubah pokok pembicaraan, dan memulai aktivitas baru. Jika kemarahan siswa tidak juga reda, guru dapat meminta bantuan kepada petugas bimbingan penyuluhan. Dalam diskusi kelas, tekankan pentingnya memperhatikan pandangan orang lain dalam meningkatkan pandangan sendiri. Kita hendaknya waspada terhadap siswa yang sangat ambisisus, berpendirian keras, dan kaku yang suka mengintimidasi kelasnya sehingga tidak ada seseorang yang berani tidak sependapat dengannya.
Pemberian tugas-tugas yang dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab, belajar menimbang, memilih dan mengambil keputusan yang tepat akan sangat menunjang bagi pembinaan kepribadiannya. Cara yang paling strategis untuk ini adalah apabila para pendidik terutama para orang tua dan guru dapat menampilkan pribadi-pribadinya yang dapat merupakan objek identifikasi sebagai pribadi idola para remaja.
























BAB III
KESIMPULAN

1. Emosi adalah warna afektif yang kuat dan ditandai oleh perubahan-perubahan fisik. Emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak.
2. Jenis emosi yang secara normal dialami antara lain: cinta, gembira, marah, takut, cemas, sedih dan sebagainya sedangkan perkembangan emosi bergantung kepada faktor kematangan dan faktor belajar.
3. Suasana emosional yang penuh tekanan di dalam keluarga berdampak negatif terhadap perkembangan remaja. Sebaliknya suasana penuh kasih sayang, ramah, dan bersahabat amat mendukung pertumbuhan remaja menjadi manusia yang bertanggung jawab terhadap keluarga. .
4. Dengan meningkatnya usia anak, semua emosi diekspresikan secara lebih lunak karena mereka telah mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang berlebihan, sekalipun emosi itu berupa kegembiraan atau emosi yang menyenangkan lainnya.
5. Dalam kaitannya dengan penyelenggaraan, guru dapat melakukan beberapa upaya dalam pengembangan emosi remaja misalnya: konsisten dalam pengelolaan kelas, mendorong anak bersaing dengan diri sendiri, pengelolaan diskusi kelas yang baik, mencoba memahami remaja, dan membantu siswa untuk berprestasi.
6. Pemberian tugas - tugas yang dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab, belajar menimbang, memilih dan mengambil keputusan yang tepat akan sangat menunjang bagi pembinaan kepribadiannya. Cara yang paling strategis untuk ini adalah apabila para pendidik terutama para orang tua dan guru dapat menampilkan pribadi-pribadinya yang dapat merupakan objek identifikasi sebagai pribadi idola para remaja.

DAFTAR PUSTAKA


• Anda Juanda (2006), Pengembangan Nilai-Nilai Afektif pada Remaja melalui Pendidikan Keluarga. http://www.pages-yourfavorite.com/ppsupi/ abstrakpu2004.html
• Chatarina Wahyurini & Yahya Ma’shum (2006), Iiih … Emosi Banget Deh. http://www.kompas.com/kompas-cetak/0403/26/muda/933870.htm)
• Hurlock, E. (2002). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga
• Sunarto & Agung, Hartono. (2002). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : PT. Rineka Cipta
• Syamsudin, Abin M. (2005). Psikologi Kependidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.
• Willis, Sofyan. (2005). Remaja dan Masalahnya. Bandung : Alfabeta
• Yusuf, Syamsu & Nurihsan, Juntika. (2005). Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung : Remaja Rosdakarya
• Yusuf, Syamsu (2004). Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Bandung. Remaja Rosda Karya.

Saturday, 28 May 2011

Green Canyon - Eksotisme di Utara Jawa Barat


Memiliki potensi ragam panorama alam yang begitu indah, objek wisata alam Green Canyon terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Dengan menempuh melalui jalan darat dari Jakarta lebih kurang 7 – 8 jam perjalanan atau 45 menit dari objek wisata bahari Pantai Pangandaran.

Objek wisata ini mempunyai nama sebenarnya adalah Cukang Taneuh (Jembatan Tanah), sebuah tempat yang memiliki potensi ragam panorama alam dengan beraneka ragam pesona dan daya tarik wisata yang mampu menarik para wisatawan untuk berkunjung ketempat ini. Jika ingin mencapai lokasi tujuan, kita diwajibkan untuk menyewa sebuah perahu dengan tarif Rp. 75.000/perahu dengan kapasitas 5 penumpang. Terasa lebih murah jika kita berkunjung dengan keluarga. Beruntung jika kita bisa langsung naik keperahu, biasanya pada hari libur tempat ini begitu ramai dikunjungi para wisatawan baik lokal maupun asing. Oleh karena itu, kita harus antri menunggu panggilan nomor yang terdapat di balik karcis sewa perahu tersebut. Setelah nomor karcis dipanggil barulah kita turun ke dermaga untuk segera naik keatas perahu. Diatas perahu yang sudah menggunakan mesin ini terdapat sebuah pelampung, dimana jumlah pelampung tersebut sesuai dengan isinya.

Maka, dimulailah perjalanan yang pastinya sangat menyenangkan. Selama dalam perjalanan kita disuguhi pemandangan sungai dengan kiri dan kanan pepohonan yang rimbun. Selain itu, suasana di sekitar sungai pun begitu sunyi. Suara angin yang meniup pepohonan dan sesekali terdengar kicauan burung melengkapi perjalanan yang cukup menantang ini. Mungkin kita tahu hewan yang satu ini, Biawak. Disungai Cijulang inilah binatang reptil tersebut berkembang biak. Jadi tidak aneh jika kita sering melihat binatang tersebut berada di pinggiran sungai dalam perjalanan. Hewan – hewan lain seperti; Ular Kadut, Monyet dan Buaya pun terdapat disini.

Setelah menghabiskan waktu perjalanan selama 20 menit, kita disuguhi oleh 2 bukit yang kokoh. Tikungan demi tikungan telah terlewati, tibalah kita disebuah gua Green Canyon yang memiliki stalaktit dan stalakmit unik. Sungguh pemandangan yang luar biasa, sang nahkoda pun mecoba untuk memarkirkan perahunya untuk kita bisa turun dengan mudah. Sungai yang berwarna Hijau Toska diapit dengan dua tebing yang menjulang tinggi serta semilirnya angin yang sejuk. Serasa tempat itu memberikan salam selamat datang di Green Canyon kepada para pengunjung. Memang tempat yang eksotis, air yang ada di dalam sini lumayan deras, berbeda saat kita kita memulai perjalanan ke dalam gua. Pelampung yang terikat erat serta plastik yang membungkus camera, petualangan pun dimulai. Tim E-I pun berenang di sungai yang mempunyai kedalaman hingga 2 meter dengan melawan arus air. Awal yang cukup mendebarkan juga menyenangkan. Tebing yang berwarna hijau terlihat sangat begitu kokoh serta batu – batu besar, melengkapi kharisma keindahan saat berada kami berada di bagian dalamnya. Sungguh panorama yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.

Sejarah terciptanya nama ”Green Canyon”

Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa Objek Wisata Alam ini mempunyai nama sesungguhnya adalah Cukang Taneuh yang artinya Jembatan Tanah. Karena di hulu aliran Sungai Cijulang, terdapat sebuah jembatan tanah mempunyai lebar 3 meter dengan panjang 40 meter. Jembatan tersebut menghubungkan dua tebing di atas aliran air sungai yang membentuk sebuah terowongan.

Sedangkan nama Green Canyon berasal dari Turis Asing yang sedang berwisata ditempat ini beberapa tahun silam. Wisman ini menyusuri sungai cijulang dan menamakan objek wisata tersebut menjadi Green Canyon. Berarti kalau di Amerika ada Grand Canyon sedangkan di Indonesia ada Grand Canyon. Hingga saat ini, walaupun masih tetap ada nama Cukang Taneuh yang tertulis papan dekat pintu gerbang masuknya. Namun kebanyakan orang lebih sering menyebutnya Green Canyon. Jadi, apa nama Cukang Taneuh sulit disebut, kurang menjual atau dengan nama Green Canyon lebih mempunyai magnet tersendiri untuk menarik para wisatawan untuk berkunjung..? Tetapi apapun sebutannya, kita sebagai warga Negara Indonesia wajib bersyukur dan juga bangga akan keunikan-keunikan objek wisata baik itu alam, budaya, bahari dan lain sebagainya yang tidak kalah menariknya dari objek-objek wisata yang ada di dunia.

Pada akhirnya, mari kita bersama-sama untuk terus melestarikan serta menjaga agar seluruh objek wisata yang ada di Indonesia tidak berubah dan masih seperti aslinya.

PULAU SEMPU : Cagar Alam di Seputaran Segara Anakan


Objek wisata alam yang satu ini memang tidak sebeken obyek lainnya di Jawa Timur Gunung Bromo. Akan tetapi, keistimewaannya sangat unik dan jelas berbeda dari objek-objek wisata lainnya di sana.

Jauh dari kebisingan, suasananya alami, asri dan tidak ada satu pun bangunan yang berdiri di Pulau ini seperti tempat penginapan, rumah makan dan sebagainya. Pulau Sempu, adalah sebuah pulau kecil yang terletak di sebelah selatan Pulau Jawa. Pulau ini berada dalam wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Saat ini Sempu merupakan kawasan cagar alam yang dilindungi oleh pemerintah. Di pulau tersebut ada lebih dari 80 jenis burung yang dilindungi dan juga masih terdapat hewan-hewan lainnya seperti; babi hutan, kancil, juga lutung jawa dan jika beruntung bisa menemui jejak–jejak macan tutul.

Selain berenang para pengunjung juga bisa bersantai dengan bermain voli pantai. Bagi yang menyukai suasana alam yang asli dan jauh dari kebisingan kota, Pulau Sempu merupakan tempat yang pas untuk dikunjungi.

Keunikan berwisata di pulau ini adalah jika air sedang surut kita bisa menyebrang dari Pualu Jawa menuju Pulau Sempu. Pengunjung umumnya menyeberang pergi dan pulang pada pagi dan sore hari, karena penyebrangan hanya bisa dilakukan pada saat-saat itu dan bahkan tidak boleh lebih dari pukul 16.00 sore. Di pulau ini terdapat telaga yang disebut Segara Anakan. Dimana air yang terdapat di telaga ini berasal dari air deburan ombak yang menghantam karang. Sebagian air itu mengalir masuk ke Segara Anakan melalui karang yang berlubang besar di tengahnya.

Jika pengunjung ingin bermalam di sini anda bisa menginap di penginapan–penginapan milik masyarakat di sepanjang jalan menuju Pantai Sendangbiru. Atau bisa juga dengan membuka tenda di Pulau Sempu, namun pengunjung harus meminta izin terlebih dahulu di pos penjagaan di Sendangbiru yang terletak tepat di seberang Pulau Sempu. Hal ini dilakukan demi menjaga kelestarian habitat dan lingkungan sekitar objek wisata Cagar Alam ini.

MASJID DIAN AL MAHRI: Satu dari Tujuh Masjid Kubah Emas di Dunia


Berjalan melalui jalan setapak yang beraspal menuju halaman masjid, pemandangan taman yang begitu luas dan indah terpampang jelas di depan mata. Taman yang memiliki luas 4.000 meter persegi itu terbentang mengelilingi bangunan masjid. Tanaman hias berwarna-warni yang ditanam di pot hingga berbagai tanaman buah juga berjejer rapi melengkapi keindahan sekeliling bangunan cantik itu.
Masjid Dian Al Mahri, itulah nama bangunan keagamaan kebanggaan umat Muslim di wilayah sekitarnya. Masjid Dian Al Mahri merupakan salah satu dari 7 masjid berkubah emas di dunia. Tempat ibadah tersebut terletak di tepi jalan Raya Meruyung-Cinere di Kecamatan Limo, Depok, Jawa Barat. Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini sejak awal telah menjadi salah satu tujuan wisata rohani di Indonesia. Mengapa demikian? Berikut goresan tinta tentang berdirinya bangunan megah yang menjadi icon keagamaan bagi masyarakat Indonesia khususnya warga Depok.

Bangunan masjid ini menempati luas area sebesar 60 x 120 meter atau sekitar 8000 meter persegi dan berdiri di atas lahan seluas 70 hektare ini, mulai dibangun sejak tahun 2001 dan selesai pembangunannya akhir tahun 2006. Bertepatan dengan hari besar Idul Adha yang kedua kali tepatnya 31 Desember 2006, masjid ini mulai dibuka untuk umum. Oleh Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid, wanita pengusaha asal Banten, masjid ini dibangun dengan terlebih dahulu membeli tanah ini pada tahun 1996.

Layaknya sebuah masjid, alas kaki harus ditanggalkan saat masuk batas suci yang telah ditentukan. Begitu kaki menginjak batu marmer yang menghiasi semua permukaan masjid ini, ”Begitu mulianya hati wanita yang membangun masjid ini,” celetuk hati ini. Masuk ke bagian dalam masjid melalui pintu setinggi delapan meter dengan seorang penjaga berpakaian serba putih berbalut kain kuning, mata kita akan terpana oleh lampu yang tergantung tepat di tengah-tengah ruangan seberat 2,7 ton dan terbuat dari kuningan berlapis emas. Dari segi desain, masjid ini menggabungkan paduan budaya Timur Tengah dan iklim tropis.

Di bagian dalam ruangan masjid terdapat pilar-pilar yang kokoh menjulang tinggi guna menciptakan kesan ruang yang agung. Pilar masjid yang berjumlah 168 buah berlapis bahan prado atau sisa emas. Didominasi dengan unsur warna krem untuk memberi karakter ruangan yang tenang sekaligus hangat. Di puncak interior kubah terdapat lukisan menyerupai awan yang bisa berubah-ubah warna setiap fajar, tengah hari, senja, dan malam. Adapun setiap mahkota yang terdapat pada pilar masjid juga berlapiskan emas. Pegangan tangga dari lantai satu ke dua juga dilapisi emas serta hiasan, termasuk tulisan tasbih, ornamen di atas mimbar imam juga dilapisi emas.

Kemegahan Masjid Dian Al Mahri ini terletak pada kubah utama berdiameter bawah 16 meter, diameter tengah 20 meter dengan tinggi 25 meter. Kubah utama ini menyerupai kubah Taj Mahal (India) dilapis emas murni 24 karat setebal 2 milimeter. Kubah utama dikelilingi empat kubah yang lebih kecil, juga bertatahkan logam mulia. 4 kubah kecil ini memiliki diameter bawah 6 meter, tengah 7 meter, dan tinggi 8 meter. Kelima kubah ini mencerminkan rukun iman dengan jumlah yang sama pada ajaran agama Islam. Enam menara, yang melambangkan rukun iman, menjulang setinggi 40 meter. Keenam menara itu dibalut batu granit abu-abu yang diimpor dari Italia. Pada puncaknya terdapat kubah berlapis mozaik emas 24 karat. Sedangkan kubahnya mengacu pada bentuk kubah yang banyak digunakan masjid-masjid di Persia dan India.

Pada bagian kanan masjid terdapat sebuah rumah yang tidak kalah megah dimana menurut penjaga Masjid adalah rumahnya Ibu Hj Dian. ”Wah..! besar sekali,” gumam hati ini ketika mata tertuju pada rumah pribadi terbesar yang pernah kami lihat jika dibandingkan di beberapa perumahan elite di Jakarta.

Bagi anda bersama rombongan yang ingin berwisata rohani ke sini, tidak perlu khawatir. Dengan lahan parkir seluas 7000 meter persegi, 300 bis atau 1.400 kendaraan kecil, semua pengunjung dapat dengan nyaman menempatkan kendaraannya di halaman Masjid.

Mungkin selama ini wisata rohani masih identik dengan ibadah umrah yang hanya bisa dilakukan bagi mereka yang mampu ke Tanah Suci. Tapi, bagaimana dengan mereka yang hanya kecukupan. Dengan hadirnya Masjid ini, diharapkan dapat dapat mengobati bagi mereka yang ingin berwisata rohani dan juga diharapkan dapat menarik minat para wisatwan asing maupun lokal yang ingin berwisata rohani di Indonesia.

SOLO : The Spirit of Java

Bengawan Solo,

Riwayatmu ini,

Sedari dulu jadi,

Perhatian insani…

Apakah masih ingat dengan lirik lagu keroncong terkenal Bengawan Solo?

Itu adalah penggalan lirik yang terkenal hingga ke mancanegara. Solo atau Surakarta, yang dahulunya di awal kemerdekaan berstatus Keresidenan Surakarta telah berkembang menjadi kota yang kaya dengan peninggalan budaya Jawa. Solo, the spirit of Java. Itu adalah slogan yang melekat selain terkenal dengan semboyan BERSERI, yaitu Bersih, Sehat, Rapih dan Indah.

Kota Surakarta terletak di pertemuan antara jalur selatan Jawa dan jalur Semarang Madiun, yang menjadikan posisinya yang strategis sebagai kota transit. Jalur kereta api dari jalur utara dan jalur selatan Jawa juga terhubung di kota ini. Jarak antara Yogyakarta dengan Solo hanya sekitar satu jam menggunakan kendaraan maupun kereta api.

Sebagai kota yang sudah berusia hampir 250 tahun, Surakarta memiliki banyak kawasan dengan situs bangunan tua bersejarah. Selain bangunan tua yang terpencar dan berserakan di berbagai lokasi, ada juga yang terkumpul di sekian lokasi sehingga membentuk beberapa kawasan kota tua, dengan latar belakang sosialnya masing-masing.

Peninggalan sejarah dan kentalnya kebudayaan Jawa di kota Solo ini masih tampak jelas di setiap pojokan kota. Gapura khas keraton dengan lambang Keraton Surakarta “Radya Laksana” terdapat di beberapa lokasi, terutama di wilayah yang berdekatan dengan Keraton Surakarta. Radya Laksana sebagai lambang atau simbol Karaton Surakarta memiliki makna simbolis dan makna filosofis dalam kehidupan Karaton khususnya dan kehidupan masyarakat pada umumnya.

Radya Laksana dapat diartikan Jalan Negara dalam arti konsep-konsep untuk menjalankan negara yaitu Karaton Surakarta Hadiningrat. Selain secara harafiah, Radya Laksana memiliki makna sebagai ajaran dan patokan bagi siapapun yang memiliki watak Jiwa Ratu, Jiwa Santana, Jiwa Abdidalem, dan Kawuladalem yang berklebat ke Karaton yang berdasarkan pada Jiwa Budaya Jawa. Radya adalah negara. Yang disebut negara adalah bersatunya Ratu, putra Santana, Abdi dalem, kawula bangunan karaton, pemerintahan, daerah dan Pepundhen (segala sesuatu yang dihormati). Adapun Laksana berarti tindakan. Tindakan yang didasarkan pada Lahir dan Batin. Tindakan dalam bentuk batiniah harus dapat tercermin dalam wujud tindakan lahiriah.

Museum tentang sejarah dan peninggalan purbakala khas Kasunanan Surakarta juga terdapat di areal komplek keraton, salah satunya yang terkenal dan masih sering digunakan pada upacara adat Grebekan 1 Syawal kalender Islam adalah Kereta Kencana. Keunikan dari keraton ini adalah di kawasan Solo utara, yang ditata oleh pihak Mangkunagaran, dapat ditemui beberapa jejak arsitektur dengan sentuhan Eropa. Hal ini tampak dengan adanya patung-patung berornamen eropa. Ini merupakan salah satu bukti kejayaan Keraton dengan adanya hubungan diplomatik antara pihak keraton dengan pemerintah eropa pada masa dahulu.

Solo identik dengan batik sebagai pakaian khas kebesaran dan kebanggaan masyarakatnya. Batik tulis solo yang berkualitas halus di ekspor hingga ke mancanegara dan menjadi lambang khas Indonesia. Pedagang batik Jawa pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 banyak mendirikan usaha dan tempat tinggal di kawasan Laweyan (sekarang mencakup Kampung Laweyan, Tegalsari, Tegalayu, Tegalrejo, Sondakan, Batikan, dan Jongke). Tak jauh dari lokasi keraton, terdapat pasar tradisional Klewer. Pasar Klewer merupakan salah satu pasar batik terbesar di Indonesia. Di pasar ini kita dapat membeli aneka kerajinan dan oleh-oleh khas kota Surakarta dengan harga yang terjangkau dan dapat di tawar.

Bahasa daerah yang digunakan di Surakarta adalah bahasa jawa dialek Surakarta. Dialek ini berbeda sedikit dengan dialek-dialek Jawa yang digunakan di kota-kota lain seperti di Semarang maupun Surabaya. Perbedaannya berupa kosakata yang digunakan, ngoko (kasar), karma (halus), dan intonasinya. Bahasa Jawa dari Surakarta digunakan sebagai standar bahasa Jawa nasional (dan internasional, seperti di Suriname).

Beberapa makanan khas Surakarta antara lain adalah Nasi liwet, Nasi timlo, Nasi gudeg (yang lebih dikenal berasal dari Yogyakarta), Serabi Notosuman, Intip, Bakpia Balong, dan Jenang dodol khas Solo. Galabo adalah lokasi yang tepat untuk mencicipi makanan khas kota Solo dengan 75 aneka rasa makanan. Galabo ini adalah salah satu program pemerintah daerah Surakarta untuk menarik minat wisatawan pecinta kuliner. Galabo terletak tidak jauh dari lokasi Keraton dan dibuka khusus hanya untuk malam hari. Berbagai hidangan khas jawa dan Indonesia tersedia di sini dengan harga yang relative murah dan citarasa yang nikmat.

Untuk Anda pecinta seni dan budaya, pagelaran wayang Orang dapat disaksikan di taman hiburan Sriwedari pada malam harinya. Letaknya tidak jauh dari Keraton Surakarta dan dapat menggunakan becak untuk menuju ke lokasi tersebut. Wayang dimainkan oleh orang dengan nyayian dan tarian serta dialog yang lucu diiringi dengan gamelan. Cerita Wayang Orang diambil dari episode Kitab Mahabharata dan Ramayana. Saat pulang seusai pertunjukan anda dapat menikmati perjalanan santai menuju hotel dengan menggunakan andong dokar (delman).

Bagi Anda pecinta sejarah, Museum Sangiran dapat menjadi agenda wisata berikutnya untuk dikunjungi. Museum ini dapat ditempuh dari Solo kurang lebih selama 1 jam dengan menggunakan mobil atau bus. Museum ini memiliki koleksi sejumlah fosil yang ditemukan pada lapisan batu gamping di seputar wilayah Sangiran. Yang menarik dari museum ini adalah ditemukannya fosil dari manusia purba Solo (Homo Soloensis) yang hidup 600.000-150.000 tahun yang lalu. Fosil ini merupakan fosil manusia purba tertua di Indonesia. Selain fosil manusia purba, museum tersebut juga memamerkan koleksi fosil gigi, tanduk, tulang dan gading atau taring. Untuk menambah pengetahuan tentang manusia purba, museum mengajak pengunjung untuk menyaksikan film tentang sejarah asal muasal manusia di Sangiran Theatre.

Dari Sangiran perjalanan dilanjutkan menuju Candi Sukuh yang terletak di kaki gunung Lawu di Karanganyar. Perjalanan dapat ditempuh kurang lebih selama 2 jam. Candi ini sangat khas karena reliefnya sedikit erotis dan tidak sama dengan relief pada candi umumnya di Jawa. Relief pada candi tersebut menceritakan tentang kebaikan dan keburukan di dunia.

Bagi penggemar trekking, anda dapat berjalan mengambil rute dari Candi Sukuh menuju Air Terjun Grojogan Sewu. Air Terjun Grojogan Sewu cukup terkenal dan memiliki pemandangan yang menakjubkan. Trekking melewati perkampungan lokal dengan pemandangan yang indah dan keramahan penduduknya menjadikan liburan lebih menarik. Berpetualang ke Tawang Mangu dapat ditempuh dalam waktu satu jam dari kota Solo dengan menggunakan mobil atau transportasi umum. Angkutan umum ini memiliki harga yang relative murah tidak lebih dari 20 ribu rupiah. Di Tawang Mangu banyak tersedia villa yang disewakan untuk berlibur, dan Anda dapat beristirahat dengan tenang di tengah semilir sejuk udara Tawang Mangu. Selamat berlibur!

Jadwal Museum Karaton Surakarta Hadiningrat:
Senin – Kamis : Pukul 09.00 – 14.00
Jumat : Tutup
Sabtu-Minggu : Pukul 09.00 – 15.00

Harga Tiket Masuk:

Wisatawan Domestik : Rp. 4000
Group : Rp. 3500
Wisatawan Asing : Rp. 8000
Ijin Foto : Rp. 2000